Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Senyar Aceh 25, Gelap, dan Lilin-Lilin yang Kita Abaikan

ketika masyarakat Aceh sedang berjuang untuk sekadar bertahan, ruang publik nasional terbelah oleh amarah.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Sejarah memberi kita banyak cermin untuk melihat diri.

Pada tahun 2011, Jepang mengalami salah satu bencana terdahsyat dalam sejarah modern: gempa magnitudo 9,0 dan tsunami raksasa yang menyapu wilayah Tohoku. 

Ribuan nyawa hilang, kota-kota musnah, pembangkit nuklir lumpuh. 

Dunia terkejut melihat skala kehancuran itu. 

Namun dunia lebih terkejut lagi melihat bagaimana Jepang merespons: bukan dengan teriakan marah, bukan dengan saling menyalahkan, dan bukan dengan kepanikan.

Di tengah reruntuhan, orang-orang Jepang antre dengan tenang untuk mendapatkan makanan. 

Di pusat pengungsian, warga saling membantu tanpa harus diperintah. 

Para relawan datang dari seluruh negeri, membawa selimut, makanan, dan tenaga. 

Mereka tidak mengutuk gelap; mereka menyalakan lilin-lilin kecil yang membuat dunia melihat kembali makna kemanusiaan.

Sikap itu bukan kebetulan. 

Ia adalah buah dari budaya, pendidikan, dan kepercayaan bahwa solidaritas lebih kuat daripada amarah.

Dunia juga sempat menyaksikan Badai Katrina pada 2005, ketika New Orleans terbenam oleh air. 

Pemerintah Amerika Serikat dikritik habis-habisan karena dianggap lamban dan tidak sigap. 

Tetapi penyelamatan bukan datang dari gedung-gedung pemerintahan. 

Ia datang dari warga biasa: kelompok gereja, komunitas lokal, kelompok Afro-Amerika, organisasi kampus, dan orang-orang yang mengemudi mobil pribadi untuk menjemput tetangga yang terjebak.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved