Breaking News
Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Kebohongan Soekarno, Banjir Bandang, dan Keegoisan Pusat

Bencana besar ini menerjang 18 kabupaten/kota, merusak rumah, fasilitas umum, jembatan, dan lahan pertanian

Penulis: Bukhari Ali | Editor: Amirullah
Serambinews.com
Bukhari M Ali, Jurnalis Senior Serambi Indonesia 

Namun, hingga kini pemerintah pusat belum menyatakan status bencana nasional untuk Aceh. Hal ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama ketika melihat fakta bahwa pemulihan dasar, khususnya listrik, masih sangat lambat. 

Warga Aceh mulai bertanya-tanya: apa alasan sebenarnya pemerintah pusat belum menaikkan status ini? Apakah karena pertimbangan administratif, penilaian teknis, atau faktor lain yang belum dijelaskan secara terbuka?

Dalam suasana yang penuh ketidakpastian ini, sebagian masyarakat Aceh teringat pada sebuah peristiwa sejarah pada 17 Juni 1948. Saat itu, Presiden Soekarno dikisahkan menangis di hadapan Gubernur Militer Aceh, Tgk. Muhammad Daud Beureueh. 

Sebagian orang menilai bahwa tangisan itu bisa jadi sebagai bentuk ketulusan, namun sebagian lainnya malah memandangnya sebagai drama politik agar Aceh tidak menuntut pemberlakuan syariat Islam. 

Apa pun tafsirnya, peristiwa tersebut meninggalkan jejak psikologis bahwa Aceh pernah merasa tidak sepenuhnya dipahami oleh pusat, dan kekhawatiran yang sama muncul kembali hari ini. 

Ada pandangan bahwa Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), seharusnya menyuarakan secara lebih emosional betapa beratnya keadaan Aceh. Ini tentu saja bukan untuk meniru sejarah, tetapi sebagai simbol bahwa rakyat Aceh benar-benar berada dalam kesulitan yang membutuhkan uluran tangan nasional.

Harapannya jelas: hubungan Aceh dan pemerintah pusat yang selama ini sangat harmonis, jangan sampai kembali lecet, terluka, atau bahkan terkoyak hanya karena lambatnya penetapan status bencana. 

Aceh tidak meminta keistimewaan; Aceh hanya meminta perlindungan yang sewajarnya ketika menghadapi bencana sebesar ini. 

Catatan:

Sebagian isi artikel saya ini telah dimuat dalam buku “Liputan Lapangan: Oknum, Aparat, Prajurit dengan judul ‘Kebencian Itu Sudah Bertindih Lapis’” yang diterbitkan oleh National Democratic Institute for International Affair (NDI) yang bekerjasama dengan Lembaga Pers Dr. Soetamo (LPDS) tahun 2001).

 

*) PENULIS adalah Jurnalis Senior Serambi Indonesia

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved