Kupi Bengoh
Banjir, Nabi Yunus As dan Perang Uhud
Kejadian bencana ini mengingatkan kita khususnya yang di Aceh dengan peristiwa tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.
Oleh Ir, Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng *)
Indonesia kembali tersentak ketika bencana banjir dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatera sekaligus yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Indonesia untuk kesekiankalinya berduka dan ibu pertiwi kembali menangis meratapi apa yang terjadi untuk anak negeri tercinta ini.
Jumlah korban meninggal sampai sabtu sore tanggal 13 Desember 2025 menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengungkapkan korban meninggal dunia secara total tiga provinsi, dari 995 jiwa per hari kemarin, saat ini 1.006 jiwa," kata Abdul dalam konferensi persnya pada Sabtu sore, seperti dipantau dari Breaking News KompasTV.
Ia kemudian memerinci terkait perubahan data jumlah korban meninggal dunia di tiap provinsi tersebut. "Perubahan ini terjadi di Aceh, dari 411 ke 415 jiwa korban meninggal dunia, kemudian Sumatera Utara dari 343 menjadi 349 (jiwa), dan Sumatera Barat dari 241 ke 242 (jiwa)," ucapnya. Beliau juga menjelaskan jumlah yang masih hilang dan yang masih mengungsi pada tiga provinsi tersebut.
Kejadian bencana ini mengingatkan kita khususnya yang di Aceh dengan peristiwa tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu. Banyak pihak yang menyatakan ini seperti tsunami kedua yang air nya datang dari gunung.
Banyak pihak membandingkan peristiwa ini, mulai dari skala bencana, jumlah korban, dampak yang ditimbulkan, perkiraan kerugian, cara penanganan tanggap darurat, pola distribusi bantuan, mekanisme koordinasi, dan masih banyak lainnya yang menjadi diskusi pada ruang public.
Berbagai simpati masyarakat bahkan cemoohan dan protes keras hampir setiap hari bermunculan di media terutama media sosial. Kekecewaan yang terus berlangsung karena menganggap terutama pemerintah pusat yang tidak merespon cepat terhadap apa yang terjadi di Aceh.
Tulisan ini mencoba membuka sedikit refleksi terhadap apa yang sedang terjadi saat ini. Penulis teringat berbagai ajaran para guru, ustadz dan para nenek moyang kita dulu. Dari kecil kita diajarkan bahwa banjir pernah terjadi di bumi ini yang maha dasyat adalah ketika zaman Nabi Nuh As dan kisah itu hampir ada disemua ajaran Agama di bumi ini. Tetapi kali ini saya tidak mengkaitkan banjir ini dengan peristiwa Nabi Nuh As, tetapi justru teringat kepada kisah Nabi Yunus As.
Dari kecil diajarkan bahwa Nabi Yunus As pernah ditelan Ikan Paus dan atas izin Allah Swt beliau tetap selamat karena kasih sayang Allah Swt dan zikir yang selalu dibacakan dan dipraktekkan oleh nabi Yunus As. Ternyata Nabi Yunus ditelan ikan paus karena lari meninggalkan umatnya yang tidak mau ikut beriman kepada Allah Swt. Akhirnya Nabi Yunus As marah dan pergi meninggalkan umatnya tanpa perintah dari Sang Maha Pencipta.
Singkat cerita semua karena Rahmat Allah, Nabi Yunus kembali kepada umatnya dan umatnya beriman kepada Allah Swt. Kisah ini banyak terekam di dalam Al Quran. Surat Ash-Shaffat memberikan detail paling lengkap tentang peristiwa Nabi Yunus berada di dalam perut ikan paus hingga ia berdoa dan diselamatkan.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bagaimana seorang pemimpin tidak boleh meninggalkan umatnya (rakyatnya) apalagi dalam ketidaktahuan maupun dalam kelemahan. Apa yang terjadi pada kita manusia saat ini adalah kejadian yang berulang yang sudah ada sejak zaman nabi Adam As. Kita manusia hanya mengikuti takdir yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.
Untuk itu kita berharap ditengah kondisi masyarakat yang dalam keadaan lemah, para pemimpin tidak boleh lari dari rakyatnya dan harus hadir ditengah-tengah rakyatnya. Apalagi sejak Rasul terakhir Muhammad SAW, semua kepemimpinan di zaman modern ini umumnya dipilih oleh rakyat. Ini artinya pemimpin harus dekat dan sayang dengan rakyat begitu juga rakyat harus hormat dan patuh kepada pemimpin.
Terlepas apa yang sudah dan sedang terjadi, kita meyakini bahwa pemimpin kita akan selalu hadir ditengah rakyat walau fakta menggambarkan belum sepenuhnya sesuai dengan keinginan rakyat. Masih ada beberapa kelemahan yang terjadi, tetapi kita harus optimis mereka ada ditengah-tengah rakyat.
Rakyat sebenarnya kurang peduli apakah status bencana level provinsi atau nasional, yang penting segera lakukan berbagai hal untuk membantu mereka dan mengurangi jumlah korban pasca bencana karena lambannya penanganan oleh pihak terkait. Itu belum lagi untuk masa rehab dan rekon pasca bencana.
Rakyat Aceh bahkan Indonesia serta mungkin internasional, sudah jelas mendengar bagaimana pernyataan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dengan kesedihan yang mendalam, intinya “jika kita bergantung pada mnusia mungkin bisa kecewa maka kita harus bergantung sama Allah”. Sebuah pernyataan yang menusuk relung-relung hati manusia dan menunjukkan kedalaman keimanan beliau. Tangisan beliau juga mewakili tangisan jutaan masyarakat lain yang itu mungkin tidak saja mewakili Aceh, tetapi juga di Sumut dan Sumbar.
Sebagai warga masyarakat, tentunya kita juga harus memberikan dukungan penuh dan doa kepada para pemimpin kita yang sudah berjuang dengan tulus tanpa mengenal lelah untuk membantu dan hadir ditengah rakyat yang lagi musibah.
Kita harus rapatkan barisan dan mengikuti komando pemimpin didalam berjuang dan menyelesikan semua persoalan. Kalau kita bercerai berai maka tujuan untuk memperbaiki kondisi pasca bencana ini mungkin akan jauh lebih buruk dan kita bisa saling menyalahkan sesama kita. Ini harus kita hindari.
Keluar dari garis komando pimpinan, juga sudah pernah dialami oleh nenek moyang kita dahulu contohnya pada Perang Uhud. Pada waktu itu Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan kepada pasukan pemanah untuk tidak keluar dari sarangnya walaupun menang atau kalah.
Kisah Perang Uhud (Tahun 3 Hijriah) adalah pertempuran antara Muslimin Madinah dan kaum musyrik Quraisy Makkah, di mana Muslimin awalnya unggul namun kemudian mengalami kekalahan strategis karena sebagian pasukan pemanah tidak mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW untuk tetap di posisi puncak bukit, sehingga celah ini dimanfaatkan Khalid bin Walid untuk menyerang dari belakang, menyebabkan jatuhnya banyak korban syahid, bahkan Nabi sendiri terluka.
Semua kisah diatas tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita yang saat ini sedang dalam keadaan berduka. Penulis meyakini benar bahwa Sang Pencipta benar-benar sayang kepada hamba Nya dan semoga kita sebagai hamba harus tahu bahwa Allah Sang Pencipta sangat sayang pada kita.
Mari rapatkan barisan untuk mendukung pemimpin kita membenahi hal-hal yang selama ini masih dianggap kurang sehingga semua bisa cepat tertangani dengan baik dan semua korban hilang bisa ditemukan, harta benda yang lenyap bisa ada solusi oleh pemerintah baik rumah, infrastruktur, pendidikan, bahkan mata pencaharian mereka yang terdampak bisa diganti oleh pemerintah maupun lembaga apapun itu baik lokal, regional, nasional bahkan internasional.
Disetiap kejadian tentu ada hikmah dibalik itu, dan bersama kesulitan tentu ada kemudahan Surat Al-Insyirah (Ash-Sharh) ayat 5 dan 6, yang artinya "Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan," sebuah janji Allah Swt untuk memberi jalan keluar setelah kesempitan.
Semoga kejadian yang dianggap sebagai “tsunami kedua” ini menambah keimanan kita secara personal dan secara kolektif sebagai bangsa. Selain itu, mungkin ada hikmah bahwa Pemerintah Indonesia akan memberikan perpanjangan dana otonomi khusus untuk selamanya dengan merevisi UUPA Nomor 11/2006, dan tidak hanya berhenti sampai 2027.
Perpanjangan dana otsus tersebut akan mampu membangkitkan semangat dan membangun ekonomi Aceh yang sudah luluh lantak oleh bencana yang dasyat ini. Tentunya Sumut dan Sumbar juga akan mendapatkan kompensasi dari Pemerintah Pusat dalam membangun kembali daerahnya, semoga, Wallahualam.
*) PENULIS Adalah Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh dan Peserta DiklatTaplai LEMHANAS
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/r-Azanuddin-Kurnia-SP-MP-IPU-ASEAN-Eng-Ketua-PISPI-Aceh.jpg)