Kupi Beungoh
Nasib Pendidikan Aceh dalam “Lingkaran Setan” Bencana Hidrometeorologi
Jika ditelisik lebih jauh, bencana hidrometeorologi di Aceh tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan alam.
Selama pemulihan ekologi belum ditempatkan sebagai prioritas, bencana hidrometeorologi akan terus datang silih berganti.
Penanganan darurat yang dilakukan setiap tahun berisiko mengulang pola yang sama jika akar persoalan lingkungan tetap diabaikan.
Aceh sesungguhnya memiliki pengalaman panjang berhadapan dengan bencana.
Namun pengalaman tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi pembelajaran kolektif yang memengaruhi cara pandang terhadap pembangunan dan pengelolaan alam.
Bencana masih kerap dipahami sebagai peristiwa yang datang tiba-tiba, sementara keterkaitannya dengan proses jangka panjang di wilayah hulu belum selalu menjadi perhatian.
Situasi ini membentuk lingkaran setan bencana, ketika kondisi lingkungan menurun, respons berfokus pada penanganan darurat, dan perbaikan mendasar berjalan tersendat sehingga pola yang sama terus berulang.
Nasib Pendidikan
Dalam setiap rangkaian bencana, pendidikan hampir selalu berada di posisi paling rapuh.
Fokus pemulihan umumnya tertuju pada infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, dan rumah warga, sementara sekolah diperlakukan seolah dapat menunggu.
Gangguan terhadap proses belajar kerap dianggap sebagai konsekuensi wajar dari situasi darurat, meskipun dampaknya jauh lebih panjang dan mendalam.
Padahal, pendidikan tidak pernah benar-benar bisa menunggu. Setiap hari sekolah yang hilang merupakan kesempatan belajar yang tidak sepenuhnya dapat digantikan.
Bagi anak-anak di wilayah rawan bencana, gangguan ini tidak bersifat sementara, melainkan berulang dan menumpuk. Penutupan sekolah yang terjadi berkali-kali membuat proses belajar terfragmentasi dan kehilangan kesinambungan.
Akibatnya, ketertinggalan belajar menjadi persoalan nyata. Anak-anak harus menyesuaikan diri dengan ritme belajar yang tidak stabil, sementara tuntutan akademik tetap berjalan.
Guru dituntut mengejar ketuntasan kurikulum dalam waktu yang semakin terbatas, sering kali tanpa dukungan kebijakan yang memadai.
Dalam situasi seperti ini, kualitas pembelajaran berada dalam posisi yang rentan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-MA-Ulumul-Quran-Kota-Banda-Aceh-Djamaluddin-Husita-SPd-MSi.jpg)