Kupi Beungoh
Nasib Pendidikan Aceh dalam “Lingkaran Setan” Bencana Hidrometeorologi
Jika ditelisik lebih jauh, bencana hidrometeorologi di Aceh tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan alam.
Pemulihan ekologi dan perlindungan hutan perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang.
Pada saat yang sama, pendidikan harus dipandang sebagai fondasi utama pembangunan manusia Aceh yang keberlangsungannya wajib dijaga.
Selama kerusakan lingkungan masih dibiarkan dan pendidikan belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan penanggulangan bencana, anak-anak Aceh khususnya di daerah rawan bencana akan terus belajar dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Kondisi ini patut menjadi perhatian bersama karena yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran proses belajar hari ini, tetapi arah masa depan Aceh.
Aceh memiliki pengalaman, kearifan lokal, dan sumber daya sosial untuk keluar dari siklus bencana yang berulang.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk belajar dari pengalaman tersebut, menata ulang relasi dengan alam, dan menempatkan pendidikan sebagai amanah bersama.
Dengan langkah itulah, lingkaran setan bencana perlahan dapat diputus, dan pendidikan kembali menjadi ruang harapan bagi generasi Aceh.
*) PENULIS adalah Kepala MA Ulumul Quran Kota Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-MA-Ulumul-Quran-Kota-Banda-Aceh-Djamaluddin-Husita-SPd-MSi.jpg)