Kupi Beungoh
Nasib Pendidikan Aceh dalam “Lingkaran Setan” Bencana Hidrometeorologi
Jika ditelisik lebih jauh, bencana hidrometeorologi di Aceh tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan alam.
Lebih jauh lagi, bencana yang berulang membawa dampak psikososial bagi anak. Ketidakpastian, kecemasan, dan pengalaman traumatis memengaruhi konsentrasi serta motivasi belajar.
Anak-anak terbiasa hidup dalam situasi darurat yang datang dan pergi tanpa kepastian kapan kondisi benar-benar stabil. Dampak ini kerap luput dari perhatian karena tidak selalu tampak, namun berpengaruh besar terhadap perkembangan anak dalam jangka panjang.
Situasi tersebut pada akhirnya menciptakan ketimpangan pendidikan. Anak-anak yang tinggal di wilayah relatif aman dapat menikmati proses belajar yang lebih stabil.
Sebaliknya, anak-anak di daerah rawan bencana harus terus beradaptasi dengan gangguan berulang. Ketimpangan ini bukan persoalan kemampuan individu, melainkan akibat kondisi lingkungan dan kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak.
Sering kali, dibukanya kembali sekolah pascabencana dianggap sebagai tanda ketahanan pendidikan. Namun ketahanan semacam ini masih rapuh jika tidak disertai kesiapsiagaan yang memadai.
Sekolah kembali berjalan tanpa perencanaan pembelajaran darurat yang sistematis, tanpa integrasi mitigasi bencana dalam tata kelola pendidikan, serta tanpa perlindungan yang jelas bagi hak belajar anak.
Dalam konteks ini, keberulangan bencana seharusnya dibaca sebagai peringatan struktural, bukan sekadar kejadian musiman.
Ketika sekolah terus-menerus diliburkan dan pemulihan dilakukan tanpa perubahan mendasar, pendidikan dipaksa beradaptasi dengan krisis yang dinormalisasi.
Normalisasi inilah yang berbahaya karena perlahan mengikis kesadaran bahwa hak belajar anak seharusnya dilindungi dari risiko yang sebenarnya dapat dikurangi.
Dalam jangka panjang, membiarkan pendidikan terus terganggu oleh bencana yang berulang sama artinya dengan membiarkan dampaknya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika lingkungan tidak dipulihkan dan pendidikan tidak diproteksi secara sistemik, yang dipertaruhkan bukan hanya capaian akademik hari ini, tetapi kualitas sumber daya manusia Aceh di masa depan.
Pendidikan juga tidak seharusnya diposisikan semata sebagai pihak yang selalu terdampak.
Sekolah dan madrasah memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran nilai-nilai ekologis dan kebencanaan. Melalui pendidikan yang terencana, anak-anak dapat dibekali kesadaran tentang relasi manusia dan alam serta tanggung jawab menjaga lingkungan.
Peran ini hanya dapat berjalan jika didukung kebijakan lintas sektor yang konsisten.
Memutus lingkaran setan bencana hidrometeorologi berarti memulainya dari hulunya, dengan menata kembali cara pandang terhadap alam dan pembangunan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-MA-Ulumul-Quran-Kota-Banda-Aceh-Djamaluddin-Husita-SPd-MSi.jpg)