Kupi Beungoh
Nasib Pendidikan Aceh dalam “Lingkaran Setan” Bencana Hidrometeorologi
Jika ditelisik lebih jauh, bencana hidrometeorologi di Aceh tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan alam.
*) Oleh: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si
SAAT ini, Aceh berada dalam situasi yang patut direnungkan bersama. Banjir dan longsor semakin sering terjadi dan menjangkau banyak wilayah, bahkan hampir bersamaan di berbagai kabupaten dan kota.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, peristiwa yang sama kembali berulang.
Bencana hidrometeorologi perlahan bergeser dari kejadian insidental menjadi pola berulang yang mencerminkan persoalan struktural dalam tata kelola lingkungan, pembangunan, dan kesiapsiagaan yang hingga kini belum terselesaikan.
Dalam pola tersebut, pendidikan kerap menjadi sektor yang paling cepat terdampak, namun paling lambat dipulihkan.
Proses belajar mengajar terhenti seketika ketika bencana datang, lalu berjalan kembali setelah kondisi membaik tanpa perubahan berarti dalam kesiapsiagaan.
Saat hujan berikutnya turun, gangguan yang sama kembali terjadi. Anak-anak Aceh pun tumbuh dalam situasi belajar yang terus dibayangi ketidakpastian.
Jika ditelisik lebih jauh, bencana hidrometeorologi di Aceh tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan alam.
Aktivitas siklon tropis di kawasan Samudra Hindia memang berkontribusi terhadap peningkatan intensitas dan durasi hujan ekstrem.
Namun fenomena meteorologis tersebut tidak dengan sendirinya berubah menjadi bencana di wilayah yang memiliki sistem lingkungan yang berfungsi dengan baik.
Persoalan mendasarnya justru terletak pada melemahnya fungsi alam sebagai penyangga kehidupan.
Tekanan terhadap kawasan hutan, alih fungsi lahan, serta berbagai aktivitas di wilayah hulu secara perlahan mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.
Hutan yang seharusnya berperan sebagai penyimpan air alami terus menyusut, digantikan oleh lahan terbuka yang tidak mampu menahan limpasan.
Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air dengan cepat mengalir ke hilir. Sungai meluap, dan banjir pun menjadi peristiwa yang kian sering terjadi.
Dalam konteks ini, bencana tidak dapat dilepaskan dari pilihan manusia dalam mengelola lingkungan. Kerusakan hutan dan degradasi ekologi tidak hanya berdampak pada keseimbangan alam, tetapi juga memicu persoalan sosial yang lebih luas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-MA-Ulumul-Quran-Kota-Banda-Aceh-Djamaluddin-Husita-SPd-MSi.jpg)