Kupi Beungoh
Meunasah, Adat, dan Negara: Merajut Public Speaking dan Heart Speaking dalam Bencana Aceh 2025
Tanpa komunikasi resmi yang tertata, penanganan bencana berisiko kehilangan arah
*) Oleh: Dr. Febyolla Presilawati, S.E., M.M.
BENCANA Aceh 2025 bukan semata peristiwa alam yang meruntuhkan rumah dan infrastruktur, melainkan juga sebuah ujian sunyi terhadap cara kita bertutur sebagai masyarakat beradab.
Ia menguji bukan hanya ketangguhan fisik, tetapi juga kedewasaan moral dan kebijaksanaan komunikasi kita sebagai bangsa.
Sejak akhir November, rangkaian banjir bandang, longsor, dan gempa mengguncang berbagai wilayah Aceh.
Baca juga: Merespon “Top Mata Kap Igoe”nya Prof. Humam: Soal Negara dan Bencana Aceh
Data korban terus diperbarui, pengungsian meluas, dan negara hadir melalui pernyataan resmi, konferensi pers, serta mekanisme tanggap darurat.
Namun di balik statistik dan laporan, terdapat kehidupan manusia yang rapuh dan terluka.
Ada ibu yang kehilangan anaknya, ayah yang gagal menyelamatkan rumah dan ladang, serta para lansia yang harus kembali memulai hidup dengan keterbatasan.
Baca juga: Kapolri Kembali Kunjungi Aceh Tamiang, Pastikan Pemulihan Pascabencana Berjalan Optimal
Di ruang inilah bahasa tidak lagi sekadar alat informasi, melainkan menjadi medium empati dan kemanusiaan.
Bukan hanya apa yang disampaikan, melainkan bagaimana ia dituturkan.
Meunasah: Ruang Berkumpul, Ruang Menenteramkan
Bagi masyarakat Aceh, meunasah bukan sekadar bangunan ibadah atau ruang musyawarah.
Ia adalah jantung kehidupan sosial—ruang spiritual, kultural, dan kemanusiaan yang menyatukan warga.
Ketika bencana datang, meunasah kerap menjadi tempat pertama yang dituju: untuk berlindung, mencari kabar, berdoa bersama, dan menguatkan satu sama lain.
Dalam situasi darurat, ia bertransformasi menjadi pusat informasi alami, tempat kabar keselamatan, kehilangan, dan bantuan disampaikan dari mulut ke mulut.
Baca juga: VIDEO - Percepat Pemulihan, Al-Farlaky Panggil BUMN Rapat Evaluasi
Bahasa yang digunakan di meunasah sederhana, perlahan, dan penuh rasa. Tidak ada istilah teknokratis, tidak pula grafik dan angka. Yang hadir adalah cerita, doa, dan empati.
Pendekatan fenomenologi membantu kita memahami bahwa pengalaman bencana bagi masyarakat Aceh tidak pernah terpisah dari ruang sosial seperti meunasah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Febyolla-Presilawati-SE-MM.jpg)