KUPI BEUNGOH
Aceh dalam Intimidasi Pembangunan
Akhirnya pertanyaan liar itu tetap muncul, siapa sebenarnya yang memiliki kepentingan agar Aceh tidak maju?
Satu pertanyaan menarik akan timbul kalau kita mencoba merenungi semua kondisi dan pola yang terus terjadi terhadap upaya pembangunan di Aceh. Apakah ada upaya sistematis yang sengaja dilakukan untuk menghalangi kemajuan Aceh? Kenapa pertanyaan ini penting untuk dimunculkan?
Mungkin saja ini hanyalah sebuah pertanyaan yang muncul akibat dari kondisi keputusasaan melihat kondisi di tanah rencong yang tidak berubah.
Namun tidak mungkin juga kalau semua pemimpin Aceh kurang kompeten dan tidak mampu untuk membangun satu daerah yang hanya ditempati oleh kurang-lebih enam juta manusia dengan berbagai kandungan sumber daya alamnya.
Para calon investor silih berganti berdatangan untuk melihat kondisi langsung dan menjajaki kemungkina investasi apa yang mungkin untuk dilakukan. Namun setelah dua dekade perdamaian di bumi Aceh tidak satupun investasi yang benar-benar terjadi di Aceh.
Akhirnya pertanyaan liar itu tetap muncul, siapa sebenarnya yang memiliki kepentingan agar Aceh tidak maju? Apakah kelompok yang mendapatkan keuntungan ketika Aceh dalam suasana konflik dan mereka tetap ingin menjaga agar Aceh terus berada dalam kondisi tidak aman? Mungkinkah mereka tetap menginginkan Aceh menjadi sebuah laboratarium konflik dimana rakyat Aceh akan terus-menerus menjadi kelinci percobaan?
Mungkin terlalu banyak pertanyaan yang tidak akan ada terjawabnya, namun kondisi yang ada adalah Aceh tetap menjadi daerah tertinggal dan tidak mampu menghasilkan satu produkpun baik untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah sendiri ataupun kebutuhan yang dapat dijual ke daerah lain.
Banjir Bandang dan Permasalahannya
Banjir bandang di akhir desember 2025 membuat kita tersentak setidaknya dengan dua permasalahan.
Pertama, ternyata hutan Aceh telah begitu rusaknya sehingga ketika hujan lebat tidak mampu lagi menampung debit air dan kemudian menjadi malapetaka bagi sebahagian besar masyarakat Aceh sendiri.
Kita baru sadar bahwa air yang menerjang rumah-rumah rakyat jelata itu tidak datang sendiri tetapi datang dengan kayu gelondongan dan lumpur tebal. Bencana tersebut telah menyebabkan berbagai penderitaan tidak hanya bagi yang berdampak langsung tetapi juga bagi enam juta lebih rakyat Aceh.
Tersebarlah berbagai rumor bahwa hutan Aceh telah ditebang oleh kelompok-kelompok oligarki yang berusaha memperkaya diri, atau banjir terjadi akibat banyaknya tambang-tambang ilegal yang beroperasi di hutan Aceh.
Ditambah dengan komentar para petinggi bangsa yang kelihatan kebakaran jenggot dalam menanggapi berbagai informasi membuat seolah-olah rumor tersebut benar adanya.
Kondisi ini sebenarnya memberikan satu peringatan bagi seluruh rakyat Aceh bahwa hutan yang diwariskan oleh indatu kita telah dirampas oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab dan telah dirusak oleh manusia-manusia serakah.
Mungkin saja ini hanyalah sinyal awal dari hutan untuk meminta bantuan kepada seluruh cucu Iskandar Muda agar melakukan upaya pencegahan perusakan lebih lanjut. Karena hutan Aceh dan Sumtera merupakan salah satu benteng terakhir dari iklim dunia.
Kedua, bencana telah memberikan kita satu kesadaran bahwa ternyata Aceh tidak memiliki kekuatan apa-apa, ketika bencana memutuskan rantai pasok dari Sumatera Utara seluruh sendi perekonomian rakyat Aceh kelimpungan, harga barang naik, gas elpiji langka, BBM mahal, beras menghilang di pasar, harga telur naik dua kali lipat.
Aceh tidak memiliki infrastruktur apapun untuk bertahan yang hanya diakibatkan oleh putusnya jembatan akibat bencana banjir. Semua sendi kehidupan kocar-kacir, bukan hanya daerah yang berdampak banjir tetapi seluruh wilayah Aceh hampir lumpuh.
Aceh
Intimidasi
pembangunan
pembangunan aceh
multiangle
Meaningful
Eksklusif
Aceh dalam Intimidasi Pembangunan
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Murdani-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)