Jurnalisme Warga

Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana

Aceh dengan 18 kabupaten/kota terdampak bencana melalui Keputusan Gubernur kembali memperpanjang masa tanggap darurat

Editor: mufti
for serambinews/IST
IWAN DOUMY, S.Pd., Guru SMA Negeri 1 Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

Kesehatan mental dan kondisi psikososial guru dan murid juga menjadi disrupsi dalam PBM pada situasi darurat. Trauma bencana yang dirasakan bisa sangat berat. Guru dan murid ada yang kehilangan keluarga, rumah, harta benda, bahkan rasa aman.

Reaksi yang mungkin muncul bisa berupa stres, tatapan mata kosong, kecemasan, kesedihan, dan gangguan psikologis lainnya secara jangka panjang. Sebagian dari kita yang menyaksikan bencana tsunami 2004 silam mungkin tidak aneh ada yang trauma pergi ke pantai sampai bertahun-tahun. Trauma serupa bisa terjadi juga pada guru dan murid yang menjadi korban bencana hidrometeorologi.

Bagi guru korban bencana, menyelenggarakan pembelajaran pada situasi ini tentu tidaklah mudah. Guru mendapat beban ganda, yaitu pemulihan diri sebagai korban dan tantangan membimbing dan mengajar pada situasi yang disruptif pascabencana.

Disrupsi belajar terhadap murid dalam proses pemulihan pascabencana berpotensi menurunkan prestasi akademik mereka. Dengan kata lain, terjadi perlambatan akademik jika dibandingkan dengan murid yang yang tidak terdampak bencana.

Kewaspadaan yang lebih tinggi adalah jika akibat bencana murid tidak lagi melanjutkan sekolah atau putus sekolah.

Banyak keluarga terdampak bencana yang kehilangan harta benda, mata pencaharian, nafkah, bahkan tempat tinggal. Ketika kondisi ekonomi semakin sempit, pendidikan menjadi tidak prioritas lagi.

Daya saing murid

Bagi murid kelas 12 yang terdampak bencana, Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) sudah di depan mata. Dalam konteks ini, dua jalur penerimaan SNPMB yang akan berproses awal tahun 2026, yakni  Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Untuk SNBP, hal krusial yang perlu diperhatikan adalah memastikan murid  yang ‘eligible’, tapi terdampak bencana, mendapat kesempatan mendaftar untuk masuk perguruan tinggi.

Dengan kondisi sekolah yang rusak, dokumen, dan rapor murid yang mungkin tidak ada lagi, serta tenaga administrasi sekolah yang juga korban bencana, menjadi kendala yang berpotensi membuat murid tidak bisa mendaftar SNBP.

Pada jalur ini, nilai rapor murid harus diisikan (manual atau e-rapor) pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dengan lengkap dan benar.

Tidak hanya secara administrasi, murid yang mengambil jalur SNBP penting untuk dibimbing dalam memilih program studi sesuai bakat dan minat, daya tampung dan tingkat persaingan agar kesempatan lulus semakin besar.

Pada kondisi pascabencana, bimbingan dari guru BK juga berpotensi tidak maksimal dilakukan.

Lain halnya dengan jalur SNBT, hal yang krusial diperhatikan bagi murid korban bencana adalah kesiapan mereka untuk bisa bersaing memperebutkan satu bangku di perguruan tinggi dalam ujian tulis berbasis komputer (UTBK).

Penyelenggaraan PBM pada situasi pascabencana tidak kondusif bagi murid untuk belajar maksimal. Murid akan berhadapan dengan berbagai disrupsi belajar, yakni sarana, fisik dan mental/psikososial. Sehingga, murid korban bencana berpotensi tidak bisa bersaing menembus perguruan tinggi negeri idola mereka.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved