Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Jurnalisme Warga

TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita?

Hasil tes kemampuan akademik (TKA) nasional kembali menyentak kesadaran kita bersama. Aceh berada di peringkat 31 dari 38 provinsi

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/IST/IST
ABDUL HAMID, S.Pd., M.Pd., Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

Contoh paling nyata adalah penerimaan peserta didik baru. Sekolah swasta membuka pendaftaran sejak Januari. Madrasah juga demikian. Sekolah negeri ikut berlomba agar tidak kehilangan murid. Semua berlomba membuka lebih awal, padahal kalender pendidikan nasional jelas: penerimaan siswa baru berlangsung menjelang akhir semester genap, sekitar Juni–Juli.

Fenomena ini bukan sekadar soal jadwal. Ini cerminan ketiadaan otoritas kebijakan pendidikan yang disepakati bersama.

Pendidikan diperlakukan seperti pasar bebas, bukan sistem yang harus diatur demi mutu dan keadilan.

Pemerataan guru

Masalah klasik lainnya adalah pemerataan guru. Aceh tidak kekurangan guru secara jumlah, tetapi kekurangan guru yang berkualitas dan merata. Di satu sekolah, guru menumpuk. Di sekolah lain, kekurangan guru mata pelajaran inti.

Lebih ironis lagi, distribusi guru berkualitas masih timpang antara wilayah kota dan pedalaman. Anak-anak di daerah terpencil sering kali menjadi korban kebijakan yang tidak berpihak pada pemerataan mutu.

Kualitas lulusan guru

Aceh juga menghadapi persoalan serius pada hulu: pendidikan calon guru. Banyaknya perguruan tinggi, khususnya swasta, yang membuka program kependidikan tanpa standar mutu yang ketat telah menghasilkan lulusan guru dalam jumlah besar. Namun, kualitasnya tidak selalu sejalan.

Akibatnya, sekolah menjadi tempat “memperbaiki” kekurangan kompetensi guru, bukan tempat guru mengaktualisasikan keahlian profesionalnya.

Ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan pada akhirnya tercermin dalam hasil TKA siswa.

TKA itu alarm keras

TKA bukan satu-satunya indikator kualitas pendidikan. Namun, TKA adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan.

Ia menunjukkan bahwa ada masalah serius pada kemampuan berpikir, bernalar, dan memahami konsep dasar siswa Aceh.

Jika alarm ini terus kita abaikan, maka ketertinggalan Aceh akan semakin dalam dan generasi muda Aceh akan semakin sulit bersaing di tingkat nasional maupun global.

Arah baru pendidikan Aceh

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved