Jurnalisme Warga
TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita?
Hasil tes kemampuan akademik (TKA) nasional kembali menyentak kesadaran kita bersama. Aceh berada di peringkat 31 dari 38 provinsi
Contoh paling nyata adalah penerimaan peserta didik baru. Sekolah swasta membuka pendaftaran sejak Januari. Madrasah juga demikian. Sekolah negeri ikut berlomba agar tidak kehilangan murid. Semua berlomba membuka lebih awal, padahal kalender pendidikan nasional jelas: penerimaan siswa baru berlangsung menjelang akhir semester genap, sekitar Juni–Juli.
Fenomena ini bukan sekadar soal jadwal. Ini cerminan ketiadaan otoritas kebijakan pendidikan yang disepakati bersama.
Pendidikan diperlakukan seperti pasar bebas, bukan sistem yang harus diatur demi mutu dan keadilan.
Pemerataan guru
Masalah klasik lainnya adalah pemerataan guru. Aceh tidak kekurangan guru secara jumlah, tetapi kekurangan guru yang berkualitas dan merata. Di satu sekolah, guru menumpuk. Di sekolah lain, kekurangan guru mata pelajaran inti.
Lebih ironis lagi, distribusi guru berkualitas masih timpang antara wilayah kota dan pedalaman. Anak-anak di daerah terpencil sering kali menjadi korban kebijakan yang tidak berpihak pada pemerataan mutu.
Kualitas lulusan guru
Aceh juga menghadapi persoalan serius pada hulu: pendidikan calon guru. Banyaknya perguruan tinggi, khususnya swasta, yang membuka program kependidikan tanpa standar mutu yang ketat telah menghasilkan lulusan guru dalam jumlah besar. Namun, kualitasnya tidak selalu sejalan.
Akibatnya, sekolah menjadi tempat “memperbaiki” kekurangan kompetensi guru, bukan tempat guru mengaktualisasikan keahlian profesionalnya.
Ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan pada akhirnya tercermin dalam hasil TKA siswa.
TKA itu alarm keras
TKA bukan satu-satunya indikator kualitas pendidikan. Namun, TKA adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan.
Ia menunjukkan bahwa ada masalah serius pada kemampuan berpikir, bernalar, dan memahami konsep dasar siswa Aceh.
Jika alarm ini terus kita abaikan, maka ketertinggalan Aceh akan semakin dalam dan generasi muda Aceh akan semakin sulit bersaing di tingkat nasional maupun global.
Arah baru pendidikan Aceh
Jurnalisme Warga
Penulis JW
Abdul Hamid
TKA Aceh di Peringkat 31
Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
| Lima Tahun UBBG, Kampus Bermutu dan Maju, Refleksi Dies Natalis Ke-5 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Abdul-Hamid-OKEEE-LAGI.jpg)