Jumat, 15 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Makam Syahid Lapan, Antara Ziarah dan Ingatan Sejarah

Letaknya yang strategis membuat makam ini mudah diakses, sering disinggahi, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh maknanya.

Tayang:
Editor: mufti
IST
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Bireuen 

FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Bireuen

BAGI masyarakat Aceh, terutama mereka yang kerap melintasi jalur Banda Aceh–Medan, Makam Syahid Lapan bukanlah tempat yang asing. Ia berdiri tepat di pinggir jalan lintas nasional, di Cot Batee Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, sekitar 37 kilometer dari pusat kota kabupaten.

Letaknya yang strategis membuat makam ini mudah diakses, sering disinggahi, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh maknanya.

Setiap hari, arus kendaraan melintas tanpa henti. Sebagian pengendara berhenti sejenak untuk berdoa, bersedekah, atau menunaikan nazar. Di sekitar makam berdiri warung-warung kecil yang menjajakan pulut ijo khas Simpang Mamplam, kuliner lokal yang telah lama menjadi bagian dari kebiasaan singgah di kawasan tersebut.

Di seberang jalan, sebuah masjid menjadi tempat beristirahat bagi para pelintas. Di tengah aktivitas itu, Makam Syahid Lapan tetap berdiri tenang, menyimpan kisah sejarah yang jauh lebih besar daripada hiruk-pikuk di sekelilingnya.

Makam ini dinamakan Makam Syahid Lapan karena di dalamnya dimakamkan delapan pejuang Aceh yang gugur dalam perlawanan melawan kolonial Belanda pada awal tahun 1902.

Mereka adalah Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syekh Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek.

Delapan nama ini tidak sekadar tercantum di dinding makam, tetapi juga merepresentasikan keberanian rakyat Aceh di lereng Bukit Simpang Mamplam dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Kisah heroisme Syahid Lapan terabadikan secara jelas pada dinding makam. Peristiwa tersebut terjadi ketika delapan pejuang Aceh mengadang pasukan marsose Belanda yang berjumlah 24 orang.

Marsose merupakan pasukan elite kolonial yang dilengkapi senjata api dan dilatih secara khusus.

Sementara itu, delapan pejuang Aceh hanya berbekal pedang. Namun, ketimpangan kekuatan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk bertahan dan melawan.

Pertempuran berlangsung singkat, tetapi menentukan. Di luar perkiraan, delapan pejuang Aceh berhasil menewaskan seluruh pasukan marsose. Senjata-senjata milik Belanda kemudian dikumpulkan.

Kemenangan itu menjadi momen yang jarang terjadi dalam situasi perang yang serbatidak seimbang. Namun, euforia kemenangan justru membuka celah yang berakibat fatal.

Tanpa disadari, pasukan bantuan marsose datang dari arah Jeunieb. Serangan balasan pun dilakukan secara tiba-tiba dan brutal. Delapan pejuang Aceh tersebut tidak sempat mengatur pertahanan ulang. Mereka gugur bersimbah darah, mengakhiri perlawanan yang sebelumnya memberi harapan besar bagi rakyat di sekitar Simpang Mamplam.

Kebrutalan pasukan marsose tidak berhenti pada gugurnya delapan pejuang Aceh tersebut. Setelah menyadari bahwa 24 anggotanya tewas di tangan pejuang yang hanya bersenjatakan pedang, kemarahan marsose berubah menjadi tindakan keji yang mencederai nilai kemanusiaan. Jasad para pejuang yang telah tak bernyawa itu dicincang menggunakan pedang mereka sendiri. Tubuh-tubuh itu diperlakukan dengan tanpa hormat, seolah penjajah hendak menghapus jejak perlawanan sekaligus merendahkan martabat orang-orang yang telah memilih mati daripada tunduk kepada penjajah.

Potongan-potongan tubuh para syuhada itu kemudian dikumpulkan dan dikuburkan dalam satu liang. Tidak ada pemisahan, tidak ada penanda, dan tidak ada penghormatan. Tindakan ini bukan semata luapan emosi sesaat, melainkan bagian dari politik teror kolonial.

Belanda ingin menanamkan ketakutan, menunjukkan bahwa perlawanan akan dibayar dengan kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan.

Namun, sejarah mencatat, strategi itu tidak pernah benar-benar berhasil. Kekejaman tersebut justru menyebar sebagai cerita perlawanan dari satu gampong ke gampong lain. Cara para pejuang itu diperlakukan setelah gugur mempertegas watak penjajahan yang ditentang rakyat Aceh. Alih-alih memadamkan keberanian, teror itu justru membentuk kesadaran kolektif bahwa penjajahan adalah ketidakadilan yang wajib dilawan, sekalipun dengan risiko kehilangan nyawa.

Dalam pandangan masyarakat Aceh, kematian para syuhada tidak menandai kekalahan. Liang kubur bersama di Cot Batee Geulungku itu justru menjadi simbol pengorbanan yang melampaui zaman. Di sanalah keberanian dirawat dalam ingatan dan di sanalah kekerasan kolonial kehilangan maknanya.

Kini, Makam Syahid Lapan menjadi salah satu situs sejarah yang ramai diziarahi. Masyarakat ada yang datang untuk “peuglah kaoy” atau melepas nazar.

Di depan makam tersedia celengan beton berbentuk miniatur rumah sebagai tempat sedekah. Aktivitas ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari praktik sosial masyarakat setempat.

Menurut sseorang penjaga makam, Tgk Abdullah, tidak semua peziarah memahami sejarah di balik makam tersebut.

“Banyak yang datang bernazar, tetapi tidak sedikit yang belum tahu kisah delapan syuhada ini. Padahal, yang paling penting adalah memahami perjuangan mereka, bukan sekadar berharap pada tempatnya,” ujarnya Tgk Abdullah.

Menurutnya, Makam Syahid Lapan seharusnya diposisikan sebagai ruang edukasi sejarah lokal.

“Kalau generasi muda hanya mengenal makam ini sebagai tempat minta hajat, maka nilai perjuangannya akan hilang. Mereka ini berperang dengan pedang melawan senjata api. Itu pelajaran tentang keberanian dan keyakinan,” katanya.

Keunikan lain dari makam ini adalah keberadaan pohon “hasan teungeut” yang menaunginya. Menjelang senja, daun-daun pohon tersebut menguncup dengan sendirinya, lalu kembali mekar keesokan pagi.

Meski usianya lebih muda dari makam, pohon itu tumbuh kokoh hingga kini. Bagi warga sekitar, pohon tersebut menjadi simbol keterhubungan antara alam, waktu, dan pengorbanan manusia.

Kisah Syahid Lapan tidak dapat dilepaskan dari konteks besar Perang Aceh melawan Belanda. Setelah agresi Belanda pada tahun 1873 gagal dan Jenderal JHR Kohler tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, perlawanan rakyat Aceh justru semakin meluas. Meski Belanda berhasil menduduki pusat Kerajaan Aceh dan memproklamasikan penghapusan kekuasaan sultan, daerah-daerah lain tetap melakukan perlawanan frontal.

Aceh tidak pernah sepenuhnya tunduk. Ulama, uleebalang, dan rakyat bersatu dalam perang panjang yang disemangati hikayat-hikayat “Prang Sabi”. Perlawanan tersebut berlangsung hingga menjelang kedatangan Jepang pada 1942. Dalam konteks inilah, kisah Syahid Lapan menemukan maknanya sebagai bagian dari mozaik besar sejarah perlawanan Aceh.

Hari ini, Makam Syahid Lapan berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah Aceh tidak hanya ditulis di pusat kekuasaan, tetapi juga di pinggir jalan, di lereng bukit, dan di liang kubur para pejuang.

Ia tidak menuntut untuk disakralkan, melainkan untuk dipahami. Sebab, selama kisahnya terus diceritakan dan nilai pengorbanannya dipelihara, delapan syuhada itu tetap hidup dalam kesadaran sejarah Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved