Senin, 15 Juni 2026

Opini

Tradisi Meugang, Merawat Makna di Tengah Perubahan

DALAM kehidupan Masyarakat Aceh, menjelang Ramadhan, ada tradisi yang selalu dilaksanakan, yaitu Meugang atau lazim disebut Uroh Makmeugang.

Tayang:
Editor: mufti
IST
Abdul Manan, Guru Besar Ilmu Antropologi UIN Ar-Raniry pada Fakultas Adab dan Humaniora serta Ketua Prodi Ilmu Agama Islam (IAI) Pascasarjana UIN Ar-Raniry 

Pergeseran tafsir Meugang menuju arena gengsi sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan. Dalam banyak kebudayaan, tradisi kerap mengalami negosiasi makna seiring perubahan struktur sosial. Namun refleksi tetap diperlukan agar tradisi tidak kehilangan ruh etis yang melahirkannya. Menggeser kembali orientasi Meugang pada nilai berbagi bukan berarti menolak modernitas. Sebaliknya, ia adalah upaya menjaga keberlanjutan makna budaya. Membeli daging Meugang tentu bagian dari praktik sosial, tetapi memperluas maknanya melalui tindakan berbagi justru memperkaya tradisi itu sendiri.

Meugang tidak harus dimaknai sebagai ukuran kemampuan ekonomi atau simbol prestise. Ia dapat menjadi ruang etis yang memperkuat empati sosial. Mengundang mereka yang membutuhkan, berbagi sebagian rezeki, atau sekadar memastikan bahwa kegembiraan tidak berhenti di lingkaran sendiri, adalah cara sederhana merawat makna lama dalam konteks baru. Tradisi, pada dasarnya, adalah mekanisme sosial untuk menjaga nilai-nilai bersama. Ketika tekanan sosial mulai mengambil ruang lebih besar daripada makna budaya, di situlah refleksi menjadi penting.

Meugang telah membuktikan bahwa daya tahannya melintasi generasi, perubahan politik, dan transformasi ekonomi. Ia tetap hidup karena memiliki akar emosional dan kultural yang kuat dalam masyarakat Aceh. Namun keberlanjutan tradisi tidak hanya ditentukan oleh repetisi praktik, melainkan oleh kemampuan masyarakat menjaga nilai dasarnya. Di tengah perubahan zaman, Meugang tetap memiliki potensi sebagai simbol kesetaraan dan solidaritas sosial.

Tantangannya bukan pada tradisinya, tetapi pada cara kita memaknainya. Ketika gengsi mulai mendominasi, di situlah ruang refleksi diperlukan. Merawat Meugang berarti merawat etika sosial yang melahirkannya: kepedulian, berbagi, dan kebersamaan. Meugang bukan sekadar tentang daging yang dibeli, melainkan tentang nilai kemanusiaan yang diwariskan.  Nilai itulah yang seharusnya tetap dijaga, agar tradisi tidak sekadar bertahan, tetapi tetap bermakna.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
Live
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved