Rabu, 3 Juni 2026

Kupi Beungoh

Darul Makmur Raya, Dari Usulan Pemekaran Kecamatan Menuju Kota Madya

Wacana ini adalah sinyal kuat bahwa dinamika sosial dan ekonomi di Darul Makmur telah tumbuh begitu pesat melampaui kapasitas sebuah kecamatan.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Pengamat kebijakan Publik dan Ketua Umum DPP Ketua Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD-ACEH), Tgk Mustafa Husen Woyla 

Oleh: Mustafa Husen Woyla

WACANA pemekaran Kecamatan Darul Makmur menjadi empat wilayah baru, Ujong Raja, Tripa Jaya, Seuneu’am, dan Darul Makmur Induk, bukan sekadar urusan membagi wilayah administrasi di atas peta.

Kita lihat, wacana ini adalah sinyal kuat bahwa dinamika sosial dan ekonomi di Darul Makmur telah tumbuh begitu pesat melampaui kapasitas sebuah kecamatan.

Namun, jika kita hanya terpaku pada lahirnya kecamatan-kecamatan baru, kita mungkin hanya menyelesaikan separuh dari persoalan pelayanan publik.

Sudah saatnya kita membawa diskursus ini ke level yang lebih strategis: Mewujudkan kemandirian sebagai Kota Madya Darul Makmur Raya.

Menata Potensi demi Masa Depan

Darul Makmur, Tadu Raya, dan Tripa Makmur adalah kawasan yang diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Kita memiliki segalanya; bentang laut yang luas, aliran sungai yang dihuni ikan keurling, hingga hutan dan pegunungan yang menyimpan potensi emas dan giok.

Pantai kita indah, dan hamparan kebun sawit membentang luas bahkan hingga ke Pucok Gunong Kong di sana.

Geliat ekonomi dari sektor perkebunan dan industri ini telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

Namun, seiring dengan pertumbuhan yang masif tersebut, tantangan yang dihadapi warga juga semakin kompleks.

Setiap kali saya pulang ke rumah mertua di Lamie, saya melihat betapa mendesaknya kebutuhan akan tata ruang perkotaan yang modern. Yang Sudah sedikit di mulai di Kuta Trieng, ada jalan dua jalur.

Kita memerlukan sistem drainase yang lebih terintegrasi untuk mengantisipasi banjir, serta fasilitas kesehatan yang lebih dekat dan lengkap agar warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke pusat kabupaten saat keadaan darurat.

Peningkatan status menjadi Kota Madya adalah jalan konstitusional untuk memperpendek jarak birokrasi dan mempercepat hadirnya fasilitas publik yang memadai di tengah masyarakat.

Indikator Kemandirian yang Nyata

Secara objektif, wilayah kita telah memiliki karakteristik sebuah kota mandiri. Indikator kemandirian tersebut sudah terpampang nyata di depan mata:

Pertama, Pusat Transaksi Ekonomi: Kehadiran bank-bank besar serta tingginya intensitas transaksi keuangan menunjukkan bahwa Darul Makmur adalah magnet ekonomi yang kuat.

Aktivitas perbankan yang padat adalah bukti nyata bahwa perputaran uang di wilayah kita sudah setingkat kota.

Kedua, Mobilitas dan Arus Logistik: Keberadaan dua SPBU besar dan arus logistik barang yang tak pernah putus menunjukkan tingginya mobilitas.

Ini adalah ciri khas kota otonom yang berperan penting dalam menyambungkan arus ekonomi antarwilayah.

Ketiga, Jaringan Pasar yang Terintegrasi: Sebaran titik ekonomi dari Lamie, Kuta Trieng, Blang Baroe, Alue Waki, hingga Suka Raja dan Gunong Cut yang terkoneksi menuju Alue Bilie, telah membentuk pola Central Business District (CBD).

Ini adalah fondasi kuat bagi tata ruang perkotaan yang mandiri dan tertata.

Menyatukan Visi "Darul Makmur Raya"

Jika kita merajut kembali ikatan historis dan emosional antara Darul Makmur Induk (40 gampong), Tadu Raya (22 gampong), dan Tripa Makmur (11 gampong), kita memiliki modal sosial yang sangat besar dari 63 gampong.

Secara administratif, keberadaan 6 hingga 7 kecamatan nantinya akan sangat solid untuk membentuk sebuah Kota Madya.

Dengan status baru ini, wilayah kita akan mendapatkan dukungan langsung dari Pemerintah Pusat melalui alokasi anggaran yang lebih spesifik.

Ini bukan soal memisahkan diri, melainkan upaya berbagi beban pembangunan agar pemerintah kabupaten induk bisa lebih fokus pada wilayah lainnya, sementara kita mengelola potensi lokal dengan lebih intensif dan mandiri.

Momentum Idul Fitri: Saatnya Silaturahmi Gagasan

Ide besar ini membutuhkan kebersamaan. Perjuangan menuju Kota Madya Darul Makmur Raya adalah cita-cita kolektif seluruh elemen masyarakat, pemuda, dan tokoh-tokoh kita.

Oleh karena itu, momentum Halal Bi Halal Idul Fitri nanti harus kita jadikan sebagai titik awal.

Di saat para perantau kembali dan para tokoh berkumpul dalam suasana fitrah, mari kita diskusikan visi masa depan ini dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

Mari kita jadikan silaturahmi nanti sebagai wadah untuk menyatukan persepsi dan membentuk komite persiapan yang inklusif.

Lahirnya sebuah kota madya juga berarti pembukaan gerbang lapangan kerja bagi putra-putri daerah di berbagai instansi pemerintahan yang akan berdiri di tanah kita sendiri.

Sarjana muda kita tidak perlu lagi merantau jauh untuk mencari penghidupan; mereka bisa mengabdi dan membangun tanah kelahirannya sebagai motor penggerak kota.

Darul Makmur adalah permata yang kini saatnya kita asah bersama agar semakin berkilau. Mari kita jemput takdir Kota Darul Makmur Raya dengan semangat persaudaraan.

Dari Lamie hingga ke pelosok gampong, mari kita gaungkan: Saatnya Mandiri, Saatnya Memberi Manfaat Lebih Luas sebagai Kota! (*)

*) Penulis adalah Pengamat kebijakan Publik dan Ketua Umum DPP Ketua Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD-ACEH)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved