Selasa, 28 April 2026

Kupi Beungoh

Ramadhan dan Realitas program MBG 

Program MBG tetap berjalan saat Ramadhan. Namun realitas di sekolah menunjukkan anak-anak justru membawa pulang makanan karena berpuasa.

Editor: Amirullah
Serambinews.com
Siti Arifa Diana, S.Sos, MA. Kolumnis Literasi dan Sosial. Alumni Magister Sosiologi di Selcuk University, Turkiye. 

Oleh : Siti Arifa Diana, S.Sos, MA

Kebijakan publik sering lahir dari niat yang baik, tetapi tidak selalu lahir dari pembacaan yang cukup terhadap kehidupan masyarakat.

Negara merancang program dengan berbagai indikator keberhasila dan angka gizi, capaian pembangunan, hingga besaran anggaran yang terlihat meyakinkan di atas kertas.

Namun kehidupan sosial di lapangan sering bergerak dengan logika yang jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan dalam dokumen kebijakan. 

Ramadhan tahun ini memberi ruang refleksi yang menarik. Di tengah suasana bulan suci yang mengubah ritme kehidupan masyarakat, pemerintah sedang menjalankan salah satu program sosial yang cukup besar: program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara prinsip, gagasan memberi makanan bergizi kepada anak-anak sekolah tentu bukan sesuatu yang keliru. Indonesia masih menghadapi persoalan gizi yang tidak sederhana, mulai dari stunting hingga ketimpangan akses pangan di berbagai daerah.

Karena itu, program makanan sekolah sering dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Namun kebijakan publik tidak pernah hidup di ruang kosong. Ia selalu bersentuhan dengan budaya, kebiasaan, dan dinamika sosial masyarakat.

Ketika program yang sama dijalankan dalam konteks sosial yang berbeda seperti bulan Ramadhanpertanyaan tentang relevansi dan sensitivitas kebijakan menjadi sulit untuk dihindari. Ramadhan bukan sekadar perubahan jam makan. Ia mengubah ritme sehari-hari. 

Anak-anak yang biasanya makan siang di sekolah kini banyak yang memilih berpuasa, sementara tradisi berbuka bersama keluarga menjadi momen penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam situasi seperti ini, program makan siang di sekolah tentu memunculkan ruang diskusi baru.

Bukan karena masyarakat menolak gagasan memperbaiki gizi anak, tetapi karena waktu dan bentuk pelaksanaannya terasa kurang selaras dengan kebiasaan sosial yang sedang berlangsung.

Dalam situasi seperti ini, program makan siang di sekolah tentu memunculkan ruang diskusi baru. Bukan karena masyarakat menolak gagasan memperbaiki gizi anak, tetapi karena waktu dan bentuk pelaksanaannya terasa kurang selaras dengan kebiasaan sosial yang sedang berlangsung.

Cerita Kecil dari Sebungkus Roti

Di minggu awal Ramadhan saya berbincang dengan seorang teman yang memiliki anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Aceh. Ia bercerita tentang pengalaman anaknya di sekolah selama Ramadhan ini.

Suatu hari anaknya pulang membawa beberapa roti yang dibagikan dari program Makan Bergizi Gratis di sekolah. Roti itu tentu tidak dimakan di sekolah karena ia sedang berpuasa. Akhirnya roti tersebut dibawa pulang dan baru dimakan saat berbuka.

Cerita itu sebenarnya sederhana. Tidak ada kemarahan, tidak ada keluhan serius. Namun dari cerita kecil itu saya justru melihat bagaimana kebijakan negara bertemu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved