Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026

Kupi Beungoh

Ramadhan dan Realitas program MBG 

Program MBG tetap berjalan saat Ramadhan. Namun realitas di sekolah menunjukkan anak-anak justru membawa pulang makanan karena berpuasa.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com
Siti Arifa Diana, S.Sos, MA. Kolumnis Literasi dan Sosial. Alumni Magister Sosiologi di Selcuk University, Turkiye. 

Kepercayaan publik adalah modal penting bagi keberhasilan kebijakan. Tanpa kepercayaan itu, program sebesar apa pun akan selalu dibayangi keraguan.

Antara Anggaran Besar dan Kepercayaan Publik

Program MBG menarik perhatian publik bukan hanya karena tujuannya, tetapi juga karena skala anggarannya yang sangat besar.

Sejumlah proyeksi menyebutkan program ini dapat membutuhkan ratusan triliun rupiah dalam beberapa tahun ke depan jika dijalankan secara penuh di seluruh Indonesia.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa intervensi gizi pada anak usia sekolah mampu memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Lembaga seperti World Bank dan UNICEF bahkan menilai program makanan sekolah sebagai salah satu bentuk investasi sosial yang cukup efektif. Namun besarnya anggaran juga membawa konsekuensi yang tidak kecil. 

Dalam waktu yang hampir bersamaan, pemerintah juga menjalankan kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang memangkas belanja negara dari berbagai sektor. 

Langkah ini dimaksudkan untuk memusatkan anggaran pada program prioritas.

Sebagian ekonom melihat kebijakan ini sebagai langkah rasional. Tetapi di sisi lain muncul kekhawatiran bahwa pemusatan anggaran pada satu program besar dapat mempersempit ruang fiskal bagi sektor lain, termasuk pembangunan daerah dan penanganan bencana.

Situasi ini semakin sensitif ketika muncul kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG di beberapa daerah, termasuk yang sempat menjadi perhatian publik di Aceh. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan tentang kesiapan sistem distribusi dan pengawasan program. 

Pada akhirnya, program sebesar apa pun tidak hanya diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari sejauh mana ia mampu dijalankan dengan aman, tepat sasaran, dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Ramadhan, Empati Sosial, dan Luka yang Terlupakan

Di tengah perbincangan tentang program nasional seperti MBG, ada satu ironi lain yang terasa di Aceh saat ini. Di akhir tahun lalu Aceh baru saja dilanda banjir besar  dan longsor yang merusak ribuan rumah warga dan memaksa banyak keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka.

Pada awal kejadian, pemberitaan tentang banjir dan longsor tersebut muncul hampir setiap hari. Namun seperti banyak peristiwa lainnya, perhatian publik sering kali tidak bertahan lama.

Ketika waktu berlalu, sorotan media perlahan memudar.Padahal bagi para korban, bencana tidak pernah benar-benar selesai hanya karena pemberitaan berhenti.

Memasuki Ramadhan tahun ini, sebagian warga yang terdampak bencana di Aceh masih menjalani kehidupan dalam kondisi yang jauh dari kata layak.

Ada yang masih tinggal di tempat pengungsian, ada pula yang menjalani sahur dan berbuka dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved