Kupi Beungoh
Ramadhan dan Realitas program MBG
Program MBG tetap berjalan saat Ramadhan. Namun realitas di sekolah menunjukkan anak-anak justru membawa pulang makanan karena berpuasa.
Situasi seperti ini mengingatkan kita bahwa kebijakan publik tidak hanya diukur dari program besar yang diluncurkan, tetapi juga dari seberapa jauh negara hadir bagi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi paling rentan.
Ramadhan sering disebut sebagai bulan empati bulan yang mengajarkan manusia untuk memahami rasa lapar dan kesederhanaan hidup.
Nilai empati ini seharusnya juga tercermin dalam cara negara merancang kebijakan. Mungkin sudah saatnya pemerintah mulai mempertimbangkan pendekatan yang lebih kontekstual dalam menjalankan program sosialnya.
Dalam konteks Ramadhan, misalnya, distribusi makanan sekolah dapat disesuaikan menjadi paket makanan berbuka atau dukungan gizi yang bisa dibawa pulang oleh siswa.
Ramadhan seharusnya menjadi pengingat tentang empati tentang kemampuan memahami kehidupan orang lain dari jarak yang lebih dekat.
Mungkin di sinilah kebijakan publik juga perlu belajar: tidak hanya merancang program besar dari balik meja, tetapi juga membaca denyut kehidupan masyarakat yang akan menjalaninya. Sebab kebijakan yang benar-benar berarti bukan hanya yang besar dalam rancangan, melainkan yang mampu menyentuh realitas secara bijak.
Penulis merupakan Alumni Magister Sosiologi, Selcuk University, Turki. Penikmat literasi sosial.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Arifa-Diana-SSos-MA-Kolumnis-Literasi-dan-Sosial.jpg)