Pojok Humam Hamid
Strategi “Ie Bu Peudah” Mesin Perang Iran Melawan AS–Israel - Bagian I
Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perang tidak selalu dimenangkan oleh senjata paling canggih.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Di medan perang modern, kekuatan sering diukur dari teknologi: kapal induk terbesar, pesawat tempur paling siluman, dan sistem pertahanan udara paling mahal.
Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perang tidak selalu dimenangkan oleh senjata paling canggih.
Terkadang kemenangan justru lahir dari sesuatu yang tampak sederhana-kombinasi berbagai unsur kecil yang jika bekerja bersama dapat menciptakan tekanan yang jauh lebih besar daripada kekuatan tunggal mana pun.
Baca juga: Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr
Untuk memahami cara Iran membangun strateginya menghadapi AS dan Israel, mungkin metafora yang paling tepat justru datang bukan dari akademi militer, melainkan dari dapur tradisional Aceh: semangkuk ie bu peudah.
Dalam tradisi kuliner Aceh terdapat hidangan yang sederhana namun menyimpan filosofi mendalam. Ie bu peudah tidak memiliki satu bahan utama yang dominan.
Justru sebaliknya, kekuatannya lahir dari puluhan dedaunan yang diramu bersama.
Daun singkong, daun pepaya, pucuk kelor, berbagai tanaman liar dari hutan, dicampur dengan beras, kelapa parut, serta rempah seperti lada, kunyit, jahe, lengkuas, dan bawang putih.
Baca juga: Perang Iran, BoP, dan Kritik Tajam Anies kepada Prabowo
Jika dilihat satu per satu, setiap unsur itu tampak biasa saja. Tidak ada yang istimewa.
Namun ketika semuanya direbus dalam satu panci, ramuan itu berubah menjadi sesuatu yang kuat: pedas, menghangatkan tubuh, dan memberi energi bagi siapa pun yang memakannya.
Filosofi Ie Bu Peudah
Dalam logika dapur Aceh, kekuatan ie bu peudah tidak lahir dari satu bahan unggul. Ia lahir dari akumulasi unsur kecil yang saling menguatkan.
Menariknya, filosofi ini memberikan metafora yang hampir sempurna untuk memahami bagaimana Iran membangun mesin perangnya menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Selama beberapa dekade, dunia militer Barat berkembang dalam satu paradigma yang jelas: keunggulan teknologi menentukan kemenangan.
Baca juga: Weapon of The Weak: Strategi Iran Menjinakkan Kekuatan Super Power
Amerika Serikat membangun armada kapal induk terbesar di dunia, mengembangkan pesawat tempur siluman generasi kelima, serta sistem pertahanan udara yang semakin kompleks.
Israel, yang hidup di lingkungan keamanan yang sangat keras, membangun salah satu sistem pertahanan udara paling berlapis di dunia.
Humam Hamid
pojok humam hamid
Opini
opini serambinews
opini serambi
Meaningful
Eksklusif
serambi
Serambi Indonesia
Iran
Iran vs Israel
iran vs Amerika
perang iran
Perang Israel
| Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran |
|
|---|
| Aturan Baru Komdigi: Kenapa Semua Orang Tua Harus Senang? |
|
|---|
| Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia? |
|
|---|
| Strategi Leher Botol - Choke Point: Thermopylae, Gallipoli, Ukraina, dan Hormuz |
|
|---|
| Prabowo, Mualem, Tito, dan Kontemplasi Idul Fitri: “Panadol” dan “Normal Baru” Bencana Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-tanggapi-Benny-K-Harman.jpg)