Senin, 13 April 2026

Pojok Humam Hamid

Strategi “Ie Bu Peudah” Mesin Perang Iran Melawan AS–Israel - Bagian I

Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perang tidak selalu dimenangkan oleh senjata paling canggih. 

Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Di medan perang modern, kekuatan sering diukur dari teknologi: kapal induk terbesar, pesawat tempur paling siluman, dan sistem pertahanan udara paling mahal.

Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perang tidak selalu dimenangkan oleh senjata paling canggih. 

Terkadang kemenangan justru lahir dari sesuatu yang tampak sederhana-kombinasi berbagai unsur kecil yang jika bekerja bersama dapat menciptakan tekanan yang jauh lebih besar daripada kekuatan tunggal mana pun.

Baca juga: Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr

Untuk memahami cara Iran membangun strateginya menghadapi AS dan Israel, mungkin metafora yang paling tepat justru datang bukan dari akademi militer, melainkan dari dapur tradisional Aceh: semangkuk ie bu peudah.

Dalam tradisi kuliner Aceh terdapat hidangan yang sederhana namun menyimpan filosofi mendalam. Ie bu peudah tidak memiliki satu bahan utama yang dominan.

Justru sebaliknya, kekuatannya lahir dari puluhan dedaunan yang diramu bersama.

Daun singkong, daun pepaya, pucuk kelor, berbagai tanaman liar dari hutan, dicampur dengan beras, kelapa parut, serta rempah seperti lada, kunyit, jahe, lengkuas, dan bawang putih.

Baca juga: Perang Iran, BoP, dan Kritik Tajam Anies kepada Prabowo

Jika dilihat satu per satu, setiap unsur itu tampak biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Namun ketika semuanya direbus dalam satu panci, ramuan itu berubah menjadi sesuatu yang kuat: pedas, menghangatkan tubuh, dan memberi energi bagi siapa pun yang memakannya.

Filosofi Ie Bu Peudah

Dalam logika dapur Aceh, kekuatan ie bu peudah tidak lahir dari satu bahan unggul. Ia lahir dari akumulasi unsur kecil yang saling menguatkan.

Menariknya, filosofi ini memberikan metafora yang hampir sempurna untuk memahami bagaimana Iran membangun mesin perangnya menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

Selama beberapa dekade, dunia militer Barat berkembang dalam satu paradigma yang jelas: keunggulan teknologi menentukan kemenangan.

Baca juga: Weapon of The Weak: Strategi Iran Menjinakkan Kekuatan Super Power

Amerika Serikat membangun armada kapal induk terbesar di dunia, mengembangkan pesawat tempur siluman generasi kelima, serta sistem pertahanan udara yang semakin kompleks.

Israel, yang hidup di lingkungan keamanan yang sangat keras, membangun salah satu sistem pertahanan udara paling berlapis di dunia.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved