KUPI BEUNGOH
Mitos Mahasiswa Nilai D Lebih Sukses: Sebuah Kritik Logis terhadap Romantisasi Kegagalan Akademik
Tulisan yang menyatakan bahwa mahasiswa bernilai D cenderung lebih sukses dibandingkan mahasiswa bernilai A terdengar provokatif sekaligus menarik
Tanpa kerja intelektual mereka, banyak inovasi yang menopang kehidupan modern tidak akan pernah tercipta.
Menggambarkan akademisi sebagai profesi yang tidak bernilai justru menunjukkan kegagalan memahami peran ilmu pengetahuan dalam pembangunan masyarakat.
Kesalahan lain yang tidak kalah penting adalah penyempitan makna kesuksesan hanya pada kekayaan finansial.
Makna kesuksesan
Dalam tulisan tersebut, kesuksesan seolah olah hanya diukur dari kemampuan menghasilkan uang atau menjadi pengusaha besar.
Padahal kesuksesan memiliki banyak dimensi lain, seperti kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, dampak sosial bagi masyarakat, stabilitas kehidupan, integritas moral, serta pencapaian intelektual.
Dunia membutuhkan pengusaha yang menciptakan lapangan kerja, tetapi juga membutuhkan ilmuwan yang menemukan teknologi baru, guru yang mencerdaskan generasi muda, dokter yang menyelamatkan nyawa, dan pemimpin yang merumuskan kebijakan publik yang adil.
Mengukur kesuksesan hanya dari uang berarti mengabaikan banyak bentuk kontribusi manusia yang sama pentingnya bagi peradaban.
Pada akhirnya, hubungan antara nilai akademik dan kesuksesan tidak sesederhana membandingkan mahasiswa A dan mahasiswa D.
Nilai akademik memang bukan satu satunya faktor yang menentukan masa depan seseorang, tetapi ia tetap merupakan indikator penting dari kemampuan belajar, kedisiplinan, dan ketekunan.
Kesuksesan dalam kehidupan nyata biasanya lahir dari kombinasi berbagai faktor: pengetahuan yang memadai, keterampilan sosial, keberanian mengambil peluang, kerja keras, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Dengan demikian, narasi yang memuji mahasiswa bernilai D sebagai calon orang sukses sebenarnya lebih merupakan retorika yang menarik daripada analisis yang akurat.
Baca juga: Pendidikan sebagai Fondasi Peradaban
Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang berani bertindak, tetapi juga membutuhkan orang yang memiliki pengetahuan mendalam untuk memastikan tindakan tersebut membawa manfaat yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, alih alih meromantisasi kegagalan akademik, pendekatan yang lebih bijak adalah mendorong generasi muda untuk mengembangkan kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan praktis.
Sehingga mereka mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan bekal pengetahuan dan keberanian yang seimbang.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Hardiknas dan Ruang Kelas yang Sunyi: Benarkah Anak Sudah Merdeka Belajar? |
|
|---|
| Ruang Aman Bagi Anak dalam Sistem Pengasuhan |
|
|---|
| Catatan Kritis Pendidikan Indonesia pada Hardiknas 2026 |
|
|---|
| Kepemimpinan Perempuan dalam Pendidikan: Substansi atau Sekadar Simbol? |
|
|---|
| May Day 2026 Menjadi Momentum Refleksi Bagi Dunia Ketenagakerjaan Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta.jpg)