KUPI BEUNGOH
Mitos Mahasiswa Nilai D Lebih Sukses: Sebuah Kritik Logis terhadap Romantisasi Kegagalan Akademik
Tulisan yang menyatakan bahwa mahasiswa bernilai D cenderung lebih sukses dibandingkan mahasiswa bernilai A terdengar provokatif sekaligus menarik
Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Tulisan yang menyatakan bahwa mahasiswa bernilai D cenderung lebih sukses dibandingkan mahasiswa bernilai A terdengar provokatif sekaligus menarik.
Narasi seperti ini sering kali terasa meyakinkan karena dibungkus dengan cerita cerita populer tentang pengusaha sukses yang tidak mengikuti jalur akademik konvensional.
Namun jika dianalisis secara logis dan komprehensif, argumen tersebut sebenarnya dibangun di atas sejumlah kesalahan penalaran, simplifikasi realitas, serta bias dalam melihat fakta.
Menganggap mahasiswa bernilai D lebih sukses daripada mahasiswa bernilai A bukanlah kesimpulan ilmiah, melainkan generalisasi yang terlalu jauh dari kenyataan yang jauh lebih kompleks.
Kesalahan pertama dari narasi tersebut adalah penggunaan generalisasi yang berlebihan beberapa tokoh dunia yang tidak menyelesaikan kuliah sering dijadikan contoh untuk mendukung klaim tersebut.
Nama nama seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg kerap diangkat sebagai bukti bahwa prestasi akademik tidak penting untuk mencapai kesuksesan besar.
Namun penggunaan contoh - contoh ini sebenarnya tidak tepat. Ketiganya bukanlah mahasiswa yang gagal secara intelektual atau memiliki kemampuan akademik rendah.
Baca juga: Ketika Pendidikan Mencari Jiwanya
Mereka bahkan diterima di institusi pendidikan paling kompetitif di dunia seperti Harvard University.
Keputusan mereka meninggalkan kampus bukan karena tidak mampu mengikuti perkuliahan, melainkan karena mereka sudah memiliki proyek teknologi dan bisnis yang berkembang pesat.
Menjadikan kisah mereka sebagai pembenaran bahwa nilai rendah mengarah pada kesuksesan jelas merupakan distorsi fakta.
Kesalahan kedua adalah mengabaikan data empiris mengenai hubungan pendidikan dan mobilitas ekonomi.
Dalam banyak penelitian ekonomi dan pendidikan, prestasi akademik terbukti berkorelasi positif dengan peluang kerja, stabilitas karier, serta tingkat pendapatan.
Nilai akademik sering menjadi indikator kemampuan analitis, ketekunan, dan disiplin seseorang dalam menyelesaikan tugas yang kompleks.
Hal ini sangat penting dalam berbagai profesi yang menuntut keahlian tinggi seperti kedokteran, teknik, riset ilmiah, hukum, dan kebijakan publik.
| Perang dan Damai – Bagian 7, Gencatan Senjata, Pertemuan Islamabad Menuju Perdamaian |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian |
|
|---|
| 24 Tahun Aceh Tamiang : Negeri yang Ditempa untuk Menjadi Besar |
|
|---|
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta.jpg)