Minggu, 12 April 2026

KUPI BEUNGOH

Mitos Mahasiswa Nilai D Lebih Sukses: Sebuah Kritik Logis terhadap Romantisasi Kegagalan Akademik

Tulisan yang menyatakan bahwa mahasiswa bernilai D cenderung lebih sukses dibandingkan mahasiswa bernilai A terdengar provokatif sekaligus menarik

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta 

Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd*)

Tulisan yang menyatakan bahwa mahasiswa bernilai D cenderung lebih sukses dibandingkan mahasiswa bernilai A terdengar provokatif sekaligus menarik. 

Narasi seperti ini sering kali terasa meyakinkan karena dibungkus dengan cerita cerita populer tentang pengusaha sukses yang tidak mengikuti jalur akademik konvensional. 

Namun jika dianalisis secara logis dan komprehensif, argumen tersebut sebenarnya dibangun di atas sejumlah kesalahan penalaran, simplifikasi realitas, serta bias dalam melihat fakta. 

Menganggap mahasiswa bernilai D lebih sukses daripada mahasiswa bernilai A bukanlah kesimpulan ilmiah, melainkan generalisasi yang terlalu jauh dari kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Kesalahan pertama dari narasi tersebut adalah penggunaan generalisasi yang berlebihan beberapa tokoh dunia yang tidak menyelesaikan kuliah sering dijadikan contoh untuk mendukung klaim tersebut. 

Nama nama seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg kerap diangkat sebagai bukti bahwa prestasi akademik tidak penting untuk mencapai kesuksesan besar. 

Namun penggunaan contoh - contoh ini sebenarnya tidak tepat. Ketiganya bukanlah mahasiswa yang gagal secara intelektual atau memiliki kemampuan akademik rendah. 

Baca juga: Ketika Pendidikan Mencari Jiwanya

Mereka bahkan diterima di institusi pendidikan paling kompetitif di dunia seperti Harvard University. 

Keputusan mereka meninggalkan kampus bukan karena tidak mampu mengikuti perkuliahan, melainkan karena mereka sudah memiliki proyek teknologi dan bisnis yang berkembang pesat. 

Menjadikan kisah mereka sebagai pembenaran bahwa nilai rendah mengarah pada kesuksesan jelas merupakan distorsi fakta.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan data empiris mengenai hubungan pendidikan dan mobilitas ekonomi.

Dalam banyak penelitian ekonomi dan pendidikan, prestasi akademik terbukti berkorelasi positif dengan peluang kerja, stabilitas karier, serta tingkat pendapatan. 

Nilai akademik sering menjadi indikator kemampuan analitis, ketekunan, dan disiplin seseorang dalam menyelesaikan tugas yang kompleks. 

Hal ini sangat penting dalam berbagai profesi yang menuntut keahlian tinggi seperti kedokteran, teknik, riset ilmiah, hukum, dan kebijakan publik. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved