KUPI BEUNGOH
Mitos Mahasiswa Nilai D Lebih Sukses: Sebuah Kritik Logis terhadap Romantisasi Kegagalan Akademik
Tulisan yang menyatakan bahwa mahasiswa bernilai D cenderung lebih sukses dibandingkan mahasiswa bernilai A terdengar provokatif sekaligus menarik
Tanpa kemampuan akademik yang kuat, hampir mustahil seseorang dapat menjadi dokter spesialis, ilmuwan riset, atau perancang teknologi mutakhir.
Dengan kata lain, dunia nyata tidak hanya menghargai keberanian bertindak, tetapi juga sangat menghargai pengetahuan yang dibangun melalui proses belajar yang serius.
Baca juga: Guru di Persimpangan: Antara Pengabdian dan Kebisuan Akademik
Kesalahan ketiga dalam tulisan tersebut adalah penciptaan dikotomi palsu antara kecerdasan dan kecerdikan.
Mahasiswa bernilai A digambarkan sebagai individu yang kaku, patuh pada aturan, dan tidak berani mengambil risiko.
Sebaliknya, mahasiswa bernilai D diposisikan sebagai sosok kreatif, berani, dan mampu memanfaatkan peluang.
Pembelahan seperti ini tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Dalam kenyataannya, banyak individu yang memiliki prestasi akademik tinggi sekaligus kemampuan kewirausahaan yang luar biasa.
Dunia inovasi modern justru dipenuhi oleh orang orang yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual dengan keberanian bertindak.
Kecerdasan dan kreativitas bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua kemampuan yang justru saling melengkapi.
Selain itu, narasi tersebut juga menunjukkan bias romantisasi kegagalan cerita tentang orang yang tampak gagal secara akademik tetapi kemudian sukses besar memang sangat menarik secara emosional.
Namun cerita semacam ini hanya menyoroti segelintir individu yang berhasil, sementara mengabaikan jutaan orang lain dengan prestasi akademik rendah yang tidak mencapai keberhasilan yang sama.
Dalam ilmu statistik, fenomena ini dikenal sebagai survivorship bias, yaitu kecenderungan untuk hanya melihat mereka yang berhasil bertahan dan melupakan mereka yang gagal.
Ketika hanya contoh sukses yang diperlihatkan, realitas sebenarnya menjadi terdistorsi.
Argumen bahwa mahasiswa bernilai tinggi hanya akan menjadi dosen miskin juga merupakan bentuk simplifikasi yang tidak adil terhadap dunia akademik.
Profesi akademisi memang bukan jalur yang sama dengan kewirausahaan, tetapi kontribusinya terhadap kemajuan peradaban sangat besar.
Para ilmuwan, peneliti, dan akademisi menghasilkan pengetahuan baru, teknologi baru, serta solusi terhadap berbagai masalah sosial dan ekonomi.
Baca juga: Mencari Nafas Pendidikan di Tengah Tekanan Birokrasi
| Perang dan Damai – Bagian 7, Gencatan Senjata, Pertemuan Islamabad Menuju Perdamaian |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian |
|
|---|
| 24 Tahun Aceh Tamiang : Negeri yang Ditempa untuk Menjadi Besar |
|
|---|
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta.jpg)