Opini
Ramadhan: Menjinakkan Monster Kapitalisme dengan Neraca Takwa
Yang kita kritik bukan pasar, bukan pertumbuhan. Yang kita kritik adalah pertumbuhan tanpa neraca moral.
Al-Qur’an menegaskan: “…agar manusia berlaku adil” (QS. Al-Hadid: 25). “…agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya” (QS. Al-Hasyr: 7). Karena “Adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Maidah: 8).
Jika keadilan adalah tujuan wahyu, maka sistem yang menormalisasi konsentrasi ekstrem sedang menjauh dari cahaya. Pasar yang dipandu nilai adalah sarana kesejahteraan.
Pasar tanpa ruh bisa menjadi pemangsa. Dan ketika akumulasi dibiarkan tanpa batas, yang runtuh bukan hanya distribusi— tetapi kepercayaan, solidaritas, dan akhirnya, tatanan itu sendiri.
Pasar Tanpa Moralitas
Pasar bukan musuh. Rasulullah SAW adalah pedagang yang jujur, dan Madinah memiliki pasar yang hidup.
Islam tidak menolak perdagangan; ia menolak kezaliman dalam perdagangan. Pasar adalah ruang netral—ia menjadi mulia atau tercela bergantung pada nilai yang menggerakkannya.
Masalahnya bukan hanya mekanisme, melainkan moralitas yang hilang dari hati pelakunya. Al-Ghazali menegaskan bahwa syariat menjaga kemaslahatan, termasuk harta—bukan untuk dimusnahkan, tetapi diarahkan.
Ibn Khaldun mengingatkan: ketidakadilan adalah awal runtuhnya peradaban. Ketika keuntungan diambil tanpa proporsi dan beban dibagi tidak seimbang, produktivitas melemah, legitimasi runtuh.
Saat laba menjadi satu-satunya kompas, nilai tersingkir. Kejujuran berubah menjadi strategi. Kedermawanan menjadi pencitraan.
Konsumsi menjadi identitas. Ekonomi pun bergeser—dari alat kesejahteraan menjadi arena dominasi.
Ekonomi tanpa akhlak tampak rasional.
Grafiknya naik, modelnya presisi. Tetapi ia kosong secara spiritual, dan karena itu rapuh secara sosial.
Sistem yang tak ditopang keadilan akan digerogoti ketidakpercayaan. Ketika kepercayaan runtuh, pasar berubah dari ruang kolaborasi menjadi ruang kecurigaan.
Pasar tidak kekurangan instrumen. Ia kekurangan nurani. Persoalannya bukan pada sistemnya, tetapi pada manusia yang mengendalikannya—apakah digerakkan keserakahan atau dipandu takwa.
Tanpa moralitas, sistem paling canggih pun tersesat. Dengan akhlak, mekanisme paling sederhana pun dapat menegakkan keadilan.
Ekonomi Islam: Arsitektur Keadilan Berbasis Wahyu
Ekonomi Islam bukan sekadar memberi label religius pada sistem lama; ia mengubah fondasinya. Ia memindahkan pusat ekonomi dari akumulasi menuju amanah, dari dominasi menuju keseimbangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)