Opini
Ramadhan: Menjinakkan Monster Kapitalisme dengan Neraca Takwa
Yang kita kritik bukan pasar, bukan pertumbuhan. Yang kita kritik adalah pertumbuhan tanpa neraca moral.
Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)
Kita hidup di zaman yang memuja angka tetapi kehilangan makna. Setiap pertumbuhan diumumkan, kita disuruh percaya bahwa kesejahteraan sedang datang.
Grafik naik seperti doa yang dikabulkan. PDB bertambah. Investasi meningkat. Konsumsi menguat. Tetapi di balik garis yang menanjak itu, jurang ikut menganga—ketimpangan melebar, akses menyempit, kesempatan tidak pernah benar-benar setara.
Secara global, sekitar 10 persen penduduk terkaya menguasai lebih dari 70 persen kekayaan dunia, sementara 50 persen terbawah hanya menikmati kurang dari 10 persen.
Ini bukan sekadar disparitas; ini struktur yang membeku. Di Indonesia, Gini Ratio bertahan di kisaran 0,38—tanda distribusi yang masih timpang.
Di Aceh, meski Gini sekitar 0,28, angka kemiskinan yang masih di atas 12 persen menampar kesadaran kita: pertumbuhan belum menjelma menjadi keadilan.
Angka-angka itu bukan statistik netral. Ia adalah denyut ketidakadilan yang dibungkus grafik. Ia adalah kenyataan bahwa akumulasi meningkat lebih cepat daripada distribusi.
Kapitalisme telah membuktikan dirinya mampu menciptakan pertumbuhan. Itu bukan persoalan. Persoalannya lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih menyakitkan: mengapa pertumbuhan begitu mudah naik, tetapi keadilan begitu sulit hadir?
Pertumbuhan Tanpa Keadilan
Kapitalisme modern dibangun di atas kompetisi, efisiensi, dan akumulasi. Ia melahirkan inovasi dan kemajuan.
Namun tanpa fondasi moral, ia tunduk pada hukum dingin: siapa bermodal besar, berkuasa besar. Modal menarik modal. Keuntungan melahirkan keuntungan. Pasar menguat pada yang sudah kuat.
Pertumbuhan naik, tetapi aset tetap terkonsentrasi. Nilai perusahaan melonjak, tetapi upah tertahan. Pasar meluas, tetapi usaha kecil menyempit.
Dalam bentuk ekstremnya, kapitalisme finansial menjauh dari ekonomi riil. Transaksi keuangan melampaui produksi nyata. Uang berputar lebih cepat daripada manusia bekerja. Laba lahir dalam detik; keringat dibayar per jam.
Di titik itu, kapitalisme tanpa ruh menjelma seperti monster Leviathan di samudra finansial—besar dan tak berujung. Ia berkepala banyak seperti Typhon—setiap kepala korporasi, setiap mulut pasar yang ingin ditelan.
Ia seperti Chimera—indah di permukaan, menyimpan api krisis di dalamnya. Ia tidak menghancurkan sekaligus. Ia melemahkan perlahan. Ia menghisap daya beli, tenaga kerja, dan ruang hidup usaha kecil—diam, legal, rasional di atas kertas.
Yang kita kritik bukan pasar, bukan pertumbuhan. Yang kita kritik adalah pertumbuhan tanpa neraca moral.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)