Opini
Ramadhan: Menjinakkan Monster Kapitalisme dengan Neraca Takwa
Yang kita kritik bukan pasar, bukan pertumbuhan. Yang kita kritik adalah pertumbuhan tanpa neraca moral.
Riba ditolak karena memisahkan keuntungan dari risiko—mengizinkan satu pihak untung tanpa ikut menanggung beban. Ketika risiko tak lagi simetris, ketimpangan menjadi struktur.
Zakat diwajibkan bukan sebagai kemurahan hati, tetapi sebagai mekanisme distribusi sistemik.
Ia mencegah harta membeku di puncak, memastikan aliran yang menguatkan yang lemah. Kejujuran ditegakkan sebagai fondasi transaksi: “Janganlah kamu mengurangi hak orang lain” (QS. Hud: 85).
Islam tidak memusuhi pertumbuhan. Ia mendorong produktivitas dan inovasi, tetapi mengikatnya dengan tanggung jawab moral.
Keuntungan bukan tujuan akhir; ia sarana kemaslahatan. Pertumbuhan tanpa distribusi adalah kesombongan. Distribusi tanpa produktivitas adalah kelemahan. Keduanya harus berjalan dalam keseimbangan.
Di sinilah ekonomi melampaui angka—ia menjadi ibadah. Ibadah yang ditopang moralitas, diarahkan pada takwa, dan berujung pada falah: kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat. Itulah tujuan hakiki ekonomi Islam.
Baca juga: Epstein Files: Arsip Rahasia yang Membongkar Kapitalisme Gelap
Ramadhan: Menuju Puncak Ketakwaan Ekonomi
Kapitalisme tanpa ruh melahirkan pertumbuhan tanpa keadilan—ketimpangan melebar, akumulasi menumpuk, dan pasar kehilangan nurani.
Akar persoalannya bukan sekadar mekanisme, tetapi moralitas yang hilang. Ekonomi Islam hadir sebagai koreksi. Ia tidak mematikan pasar, tetapi menegakkan neraca agar ekonomi tidak berubah menjadi jalan menuju neraka.
Ia menolak riba karena keuntungan tak boleh dipisahkan dari risiko. Ia mewajibkan zakat agar harta tidak membeku di puncak. Ia menegakkan kejujuran karena transaksi adalah amanah.
Namun sistem yang adil memerlukan manusia yang berakhlak. Di sinilah Ramadhan menjadi relevan. Puasa melatih pengendalian diri dari yang halal agar mampu menjauhi yang haram.
Allah tidak membutuhkan puasa orang yang masih berdusta dan curang. Inti puasa adalah integritas.
Ketimpangan lahir dari keserakahan yang tak dibatasi. Ramadhan membatasinya dari dalam. Ia melatih kejujuran tanpa pengawasan, amanah tanpa kamera.
Jika kesadaran ini turun ke pasar, pertumbuhan menjadi sarana kemaslahatan, bukan alat dominasi. Takwa—puncak Ramadhan—adalah kesadaran bahwa setiap rupiah adalah amanah. Ia menahan dari menindas, menimbun, dan mengeksploitasi.
Kapitalisme tanpa hati melahirkan jurang. Ekonomi berbasis takwa melahirkan keseimbangan.
Ketika puasa benar-benar melahirkan takwa, ekonomi tidak lagi menjadi arena perebutan tanpa batas, melainkan jalan menuju keadilan yang diridhai Allah SWT.
Dan di situlah pertumbuhan menemukan maknanya—bukan sekadar meningkat, tetapi memuliakan.
Semoga Ramadhan menjadikan kita agen perubahan ekonomi yang berakhlak mulia—yang menegakkan neraca keadilan di dunia agar tidak tergelincir ke neraka kezaliman di akhirat.
*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)