Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Idul Fitri dan 116 Hari “Normal Baru” Bencana Aceh: Kehadiran Negara vs Kasih Sayang Negara

Hari Raya Idul Fitri tahun ini menghadirkan kontras yang tajam: antara kehadiran negara dan kasih sayang negara.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Ada kecepatan, ada arah, ada harapan. 

Negara tidak hanya hadir, tapi juga memeluk rakyatnya.

Baca juga: Pemulihan Bencana Aceh Nyaris Rampung 100 Persen, Prabowo Subianto: Warga Sudah Tinggalkan Tenda

Bagaimana Kini?

Hari ini, setelah hantaman bencana yang dikenal sebagai Siklon Senyar 25, kehadiran itu tetap ada. 

Bantuan datang, posko berdiri, pejabat berkunjung. 

Namun pertanyaannya: apakah kehadiran ini cukup untuk memastikan kehidupan benar-benar pulih secara berkelanjutan?

Rumah masih berlumpur. 

Sawah belum bisa ditanami. 

Tambak menjadi kolam sunyi. 

Ribuan warga bertahan di pengungsian. 

Sebuah “normal baru” terbentuk - bukan sebagai pilihan sadar, tetapi sebagai keadaan yang dipaksakan.

Di sejumlah wilayah, luka itu terasa paling nyata.

Di Desa Pungke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, banjir bandang merenggut hampir seluruh permukiman.

Di Lubuk Sidup, Aceh Tamiang, warga hidup di antara dinding retak dan lantai basah.

Di Tampur Paloh, Aceh Timur, dan Beutong Ateuh Banggalang di Nagan Raya, rumah-rumah berdiri dalam kondisi rapuh.

Di dataran tinggi - Seneren di Gayo Lues dan Buriah di Aceh Tengah - longsor memutus akses hidup.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved