Pojok Humam Hamid
Idul Fitri dan 116 Hari “Normal Baru” Bencana Aceh: Kehadiran Negara vs Kasih Sayang Negara
Hari Raya Idul Fitri tahun ini menghadirkan kontras yang tajam: antara kehadiran negara dan kasih sayang negara.
Ini bukan sekadar perubahan.
Ini adalah penurunan kualitas hidup yang perlahan diterima sebagai kebiasaan.
Baca juga: "Rudal Iran" Jadi Tontonan Warga Aceh, Saat Pawai Takbiran Idul Fitri 2026
Ketika Lumpur Mulai Mengering
Namun di tengah kemunduran itu, tanda-tanda kecil mulai muncul.
Lumpur di beberapa rumah mulai mengering.
Dinding-dinding yang sebelumnya basah kini mulai dibersihkan, meninggalkan garis-garis tinggi air yang menjadi penanda bencana.
Sebagian keluarga mulai kembali ke rumah mereka, meski dengan keterbatasan.
Di sawah, ada petak-petak kecil yang mulai dicangkul kembali.
Tanah yang tertutup endapan perlahan dibuka.
Beberapa petani mulai menanam, meski belum dengan keyakinan penuh.
Di pesisir, tambak-tambak mulai diperbaiki seadanya.
Pematang yang jebol ditambal, air mulai dialirkan kembali.
Ini adalah tanda-tanda awal kehidupan yang bergerak--indikasi lahirnya kemungkinan normal baru yang berkelanjutan.
Namun tanda-tanda ini masih rapuh.
Ia belum menjadi sistem.
Ia belum menjadi gerakan terarah.
Ia masih bertumpu pada daya tahan masyarakat, bukan pada kekuatan kebijakan.
Dan karena itu, pertanyaan kembali menguat:
apakah ini akan tumbuh menjadi pemulihan yang nyata, atau berhenti sebagai upaya bertahan yang panjang dan melelahkan?
Baca juga: Meugang Idulfitri di Tengah Bencana
Ruang Merenung
Idul Fitri memberikan ruang untuk merenung.
Ia bukan sekadar perayaan, tetapi cermin: tentang kesabaran, kehilangan, dan harapan yang diuji.
Di Aceh hari ini, Idul Fitri adalah perayaan dalam keterbatasan.
Tenda menjadi ruang silaturahmi.
Hidangan sederhana menjadi simbol berbagi.
Namun di balik itu semua, pertanyaan yang sama terus berulang:
apakah kehadiran negara ini cukup untuk mengubah arah kehidupan masyarakat secara berkelanjutan?
Dan pada akhirnya, seluruh narasi ini bermuara pada satu pertanyaan yang tidak bisa lagi ditunda - bahkan tidak bisa lagi dihindari: normal baru seperti apa yang sedang - dan akan - dibangun di Aceh?
Apakah yang sedang kita saksikan hari ini adalah fase transisi menuju pemulihan, atau justru proses halus yang tanpa disadari sedang membiasakan kemunduran?
Karena setiap “normal baru” selalu bergerak ke dua arah.
Ia bisa menjadi normal baru yang buruk -ketika rumah berlumpur dianggap biasa, pengungsian menjadi permanen, sawah yang mati dibiarkan menunggu, dan keterbatasan hidup diterima sebagai takdir.
Atau ia bisa menjadi titik balik -ketika rumah dibangun lebih baik, sawah dipulihkan lebih kuat, tambak ditata lebih produktif, dan sistem penanganan bencana menjadi lebih cepat dan manusiawi.
Idul Fitri mengajarkan bahwa kembali bukan berarti sama, tetapi menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Maka pertanyaannya kini menjadi sangat terang: apakah Aceh akan dibiarkan hidup dalam normal baru yang buruk, atau didorong menuju normal baru yang lebih adil, lebih kuat, dan lebih manusiawi?
Jawaban tidak akan datang dari waktu.
Ia hanya akan lahir dari keseriusan perencanaan, keberanian kepemimpinan, dan kecepatan tindakan nyata.
Dan hari ini, di antara lumpur yang mulai mengering, di antara sawah yang mulai disentuh kembali, di antara tambak yang perlahan dihidupkan -Aceh berdiri di sebuah persimpangan.
Satu arah menuju kebiasaan baru yang lebih rendah.
Satu arah menuju kehidupan baru yang lebih baik.
Pertanyaannya tinggal satu: siapa yang memastikan arah itu?
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam rubrik Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
pojok humam hamid
Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
Siklon Senyar
Serambinews
Serambinews.com
bencana Aceh
Idul Fitri
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
| Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar? |
|
|---|
| Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita |
|
|---|
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-3.jpg)