Selasa, 14 April 2026

Pojok Humam Hamid

Idul Fitri dan 116 Hari “Normal Baru” Bencana Aceh: Kehadiran Negara vs Kasih Sayang Negara

Hari Raya Idul Fitri tahun ini menghadirkan kontras yang tajam: antara kehadiran negara dan kasih sayang negara.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

SUARA hujan deras dan aliran sungai yang meluap bukan sekadar suara alam.

Bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, itu adalah musik nestapa, penanda hilangnya rumah, harta, dan rasa aman.

Anak-anak yang dulu berlarian di halaman kini hanya menatap lumpur yang mengering. 

Ibu-ibu berdiri di dapur yang tak lagi berfungsi. 

Para kepala keluarga duduk dalam diam, menimbang ulang kehidupan yang tiba-tiba runtuh. 

Setiap rumah yang tersapu banjir menjadi saksi bisu bagaimana kehidupan terguncang--bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.

Nestapa ini membentang dalam angka yang dingin namun menyayat: lebih dari 144.000 rumah rusak, ribuan di antaranya hancur berat. 

Sekitar 107.000 hektare sawah terdampak, banyak yang gagal panen. 

Di wilayah pesisir, sekitar 30.000 hektare tambak rusak, memutus nadi ekonomi ribuan keluarga.

Namun angka-angka itu tidak pernah benar-benar mampu menjelaskan satu hal: apakah kehidupan yang runtuh ini akan benar-benar dibangun kembali, atau perlahan dibiarkan menjadi bentuk baru dari ketidaknormalan.

Hari Raya Idul Fitri tahun ini menghadirkan kontras yang tajam: antara kehadiran negara dan kasih sayang negara.

Aceh pernah merasakan kasih sayang itu. 

Pasca-tsunami 2004/2005, negara hadir bukan sekadar administratif. 

Rumah dibangun kembali, jalan dibuka, sekolah dan fasilitas publik berdiri dengan cepat. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved