Pojok Humam Hamid
Idul Fitri dan 116 Hari “Normal Baru” Bencana Aceh: Kehadiran Negara vs Kasih Sayang Negara
Hari Raya Idul Fitri tahun ini menghadirkan kontras yang tajam: antara kehadiran negara dan kasih sayang negara.
Takbir yang biasanya menggema dari masjid kini terasa lirih, bersahut dengan sunyi pengungsian.
Idul Fitri tidak lagi identik dengan pulang, tetapi dengan bertahan.
Dan di balik semua itu, tersimpan kegelisahan: apakah kehidupan yang bertahan ini sedang bergerak menuju pulih, atau hanya menyesuaikan diri pada keterpurukan yang berkepanjangan?
Bandingkan dengan masa pandemi Covid-19.
Saat itu, “normal baru” lahir dari kesadaran.
Masker, jarak sosial, dan protokol kesehatan menjadi strategi.
Ada kendali, ada arah, ada harapan.
Normal baru adalah adaptasi yang progresif.
Namun di Aceh hari ini, normal baru justru terasa seperti regresi yang dilegitimasi.
Rumah yang dulu nyaman kini menjadi ruang lembap dan retak.
Jalan rusak membatasi gerak.
Air bersih menjadi sesuatu yang harus dicari.
Anak-anak belajar di ruang darurat.
Petani menatap sawah yang mati.
Petambak berdiri di tepi kolam yang kosong.
pojok humam hamid
Humam Hamid
Ahmad Humam Hamid
Siklon Senyar
Serambinews
Serambinews.com
bencana Aceh
Idul Fitri
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
| Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar? |
|
|---|
| Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita |
|
|---|
| Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-3.jpg)