Selasa, 19 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II

Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan Persia

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Tarmizi A Hamid atau Cek Midi adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh serta Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh 

Kita melihat bagaimana sebuah gagasan dapat berpindah ribuan kilometer, melintasi bahasa dan budaya, lalu menemukan bentuk barunya di tempat yang jauh dari asalnya.

Baca juga: Silvermen Gentayangan di Aceh, Budayawan Cek Midi: Merusak Norma Islam dan Keacehan

Dan dalam proses itu, Aceh tidak kehilangan identitasnya. Justru sebaliknya, ia memperkaya dirinya.

Persia mungkin tidak lagi hadir secara fisik di Aceh. Namun suaranya masih dapat didengar dalam kata-kata, dalam syair, dalam manuskrip yang telah ditulis berabad-abad pada masa lalu.

Ia berbicara dalam bahasa Melayu, tetapi membawa kedalaman makna yang melampaui batas geografis.

Dan mungkin di situlah letak kekuatan sebenarnya dari tradisi intelektual Islam: bukan pada keseragaman, tetapi pada kemampuannya untuk berbicara dalam banyak bahasa, tanpa kehilangan makna.(*)

*) PENULIS adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh serta Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved