KUPI BEUNGOH
Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II
Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan Persia
Kita melihat bagaimana sebuah gagasan dapat berpindah ribuan kilometer, melintasi bahasa dan budaya, lalu menemukan bentuk barunya di tempat yang jauh dari asalnya.
Baca juga: Silvermen Gentayangan di Aceh, Budayawan Cek Midi: Merusak Norma Islam dan Keacehan
Dan dalam proses itu, Aceh tidak kehilangan identitasnya. Justru sebaliknya, ia memperkaya dirinya.
Persia mungkin tidak lagi hadir secara fisik di Aceh. Namun suaranya masih dapat didengar dalam kata-kata, dalam syair, dalam manuskrip yang telah ditulis berabad-abad pada masa lalu.
Ia berbicara dalam bahasa Melayu, tetapi membawa kedalaman makna yang melampaui batas geografis.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan sebenarnya dari tradisi intelektual Islam: bukan pada keseragaman, tetapi pada kemampuannya untuk berbicara dalam banyak bahasa, tanpa kehilangan makna.(*)
*) PENULIS adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh serta Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
Persia
Iran
Melayu
Aceh
bahasa Melayu
kupi beungoh
opini serambi
opini serambinews
opini pembaca
Meaningful
Manuskrip
| Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa |
|
|---|
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
| Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil |
|
|---|
| Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh |
|
|---|
| Ketika Tendik Cemburu pada Dosen: Akademik Tergadai dan Kebebasan Terancam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CEK-MIDI-20260402.jpg)