Minggu, 3 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Persia Berbicara dalam Bahasa Melayu: Warisan Intelektual Aceh - Bagian II

Namun manuskrip Aceh tidak lahir dari ruang kosong, Ia adalah hasil pertemuan berbagai tradisi keilmuan: Arab, India, dan Persia

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Tarmizi A Hamid atau Cek Midi adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh serta Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh 

Raja tidak hanya digambarkan sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai figur yang memiliki dimensi kosmis.

Model seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi epik Persia seperti Shahnameh, di mana sejarah dan simbolisme berjalan beriringan.

Baca juga: Rindu Romantisme Aceh-Ottoman, Pengusaha Muda Jerman - Turki Temui Kolektor Manuskrip Aceh

Namun di Aceh, narasi ini tidak ditiru begitu saja. Ia disesuaikan dengan konteks lokal, dengan nilai-nilai masyarakat, dan dengan kebutuhan dakwah. 

Hasilnya adalah bentuk sastra yang unik: hikayat Melayu yang bernapas Persia, tetapi berjiwa Aceh.

Pengaruh Persia paling terasa dalam penyebaran tasawuf melalui manuskrip.

Tokoh seperti Hamzah Fansuri memainkan peran penting dalam menerjemahkan konsep-konsep abstrak ke dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat.

Konsep seperti perjalanan spiritual, makrifat, dan kesatuan wujud tidak disampaikan dalam istilah filsafat yang rumit, melainkan melalui: syair, metafora, simbol sehari-hari.

Baca juga: Budayawan Aceh Cek Midi Gagal Hadiri Forum Internasional Manuskrip ICIM 2025 di Brunei Darussalam

Di sinilah kejeniusan intelektual itu tampak.

Gagasan besar yang berkembang dalam dunia Persia yang mungkin sulit diakses oleh masyarakat awam diterjemahkan menjadi pengalaman bathin yang dekat dan personal.

Bahasa Melayu menjadi jembatan antara dunia ide dan dunia manusia.

Penting untuk dipahami bahwa manuskrip Aceh bukan hasil akhir dari sebuah proses, melainkan bagian dari proses itu sendiri. 

Baca juga: VIDEO - Detik-detik Fasilitas Minyak Inggris di Irak Dilalap Api, Serangan Drone Iran Hantam Erbil

Setiap penyalinan, setiap penambahan catatan, setiap perubahan kecil mencerminkan dinamika intelektual yang terus berjalan.

Dalam proses ini, pengaruh Persia tidak hadir sebagai sesuatu yang statis, tetapi sebagai arus yang terus bergerak, beradaptasi, dan bertransformasi.

Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran ilmu dalam Islam tidak pernah bersifat satu arah. Ia selalu melibatkan dialog, interpretasi, dan bahkan perdebatan.

Membaca Ulang Warisan

Hari ini, ketika kita membuka kembali manuskrip-manuskrip Jawi Aceh, kita tidak hanya membaca teks lama. Kita sedang membaca jejak pertemuan peradaban.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved