Sabtu, 11 April 2026

Pojok Humam Hamid

Survei Nasional Terbaru Tentang Perang Iran: Sebaiknya Prabowo Ekstra Hati-Hati

Di negara lain seperti Amerika Serikat, opini publik tentang perang dengan Iran juga bergerak melawan eskalasi militer.

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Mayoritas publik Indonesia baru saja memberikan suara yang tak bisa diabaikan: mereka menolak keras serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran

Survei nasional yang dirilis pada awal April 2026 oleh beberapa lembaga besar seperti Indikator Politik Indonesia (IPI), Lembaga Survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa sekitar 83,1 persen warga Indonesia tidak setuju dengan aksi militer tersebut, sedangkan hanya sekitar 4,9 % yang menyatakan setuju, sisanya netral atau tidak menjawab.

Angka ini bukan sekadar statistik - ia adalah gelombang opini yang keras, langsung menggaung dari akar budaya politik Indonesia yang cenderung menolak eskalasi perang dan memilih diplomasi damai. 

Penolakan mayoritas ini menggarisbawahi bahwa perang bukanlah sesuatu yang dianggap “legitimasi rakyat.”

Justru sebaliknya, publik melihatnya sebagai ancaman terhadap kemanusiaan, stabilitas regional, dan masa depan global yang sudah rapuh.

Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia dan sebagai kekuatan regional kunci, telah lama mengambil kebijakan luar negeri yang independen dan pro-perdamaian. 

Prinsip bebas aktif bukan hanya slogan; ia menjadi panduan yang dirasakan masyarakat luas. 

Namun di tengah pergeseran geopolitik global, di mana kekuatan besar, seperti Amerika Serikat dan Israel terlibat langsung dengan Iran, posisi Indonesia menjadi semakin kompleks.

Bayangkan dilema ini sebagai adegan film geopolitik yang dramatis: satu sisi ada tekanan global dari kekuatan adidaya yang mungkin mengharapkan dukungan atau posisi tertentu dari Jakarta; di sisi lain ada gelombang opini domestik yang jelas menolak perang dan eskalasi militer. 

Baca juga: Perang Iran vs AS dan Israel: Bukti Hidup Negara Peradaban 

Bagi Presiden Prabowo Subianto, ini bukan hanya soal strategi diplomatik - ini juga soal legitimasi politik domestik yang kuat.

Survei menunjukkan kecenderungan yang kuat: publik Indonesia menolak perang tidak hanya karena dampak ekonomi semata, tetapi juga karena rasa kemanusiaan yang mendalam. 

Banyak yang melihat bahwa konflik tersebut tidak hanya memperburuk penderitaan warga sipil di Timur Tengah, tetapi juga dapat membawa dampak pasir di bawah kaki kita sendiri: harga energi yang melambung, ketidakstabilan ekonomi, hingga potensi konflik yang meluas.

Penolakan ini juga bukan fenomena lokal yang terisolasi. Di negara lain seperti Amerika Serikat, opini publik tentang perang dengan Iran juga bergerak melawan eskalasi militer. 

Survei dari organisasi riset terkemuka menunjukkan sebagian besar warga Amerika kini tidak setuju dengan aksi militer ini, dan banyak yang percaya keputusan tersebut adalah kesalahan atau tidak efektif dalam jangka panjang.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved