Selasa, 7 April 2026

Jurnalime Warga

Pesona Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji

Warga di sekitar Gunuang Ketek Labuhanhaji tampak menjalani rutinitasnya. Para penjual kebutuhan pokok  membuka toko, kedai,

Editor: mufti
IST
NURUL HUSNA, S.Pd., Gr., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UBBG Banda Aceh, guru honorer, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan 

NURUL HUSNA, S.Pd., Gr., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UBBG Banda Aceh, guru honorer, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan

Jumat (6/3/2026), sekitar pukul 10.30 WIB cuaca pagi menjelang siang cukup cerah. Matahari bersinar seperti hari sebelumnya. Warga di sekitar Gunuang Ketek Labuhanhaji tampak menjalani rutinitasnya. Para penjual kebutuhan pokok  membuka toko, kedai, untuk menjual dagangannya. Banyak kendaraan berlalu lalang di jalan raya.

Untuk pergi ke Gunuang Ketek kita harus melewati ruas jalan yang belum beraspal di samping jalan raya. Saya pergi dengan berjalan kaki sepulang dari sekolah. Jalannya tergolong kecil, tetapi bisa dilewati sepeda motor, becak, dan para pejalan kaki.

Di sebelah kanan dan kiri jalan terdapat rumput yang mulai tinggi, rumah, dan toko-toko milik warga.

Sebagian warga Labuhanhaji yang menggunakan bahasa Aneuk Jamee, menyebut gunung yang akan saya daki ini dengan “Gunuang Ketek”. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “Gunung Kecil”.

Para murid SD Negeri Labuhanhaji Barat yang saya ajar menyebutnya, “Gunung Kuali”. Namun, ada juga yang menyebutnya,  “Gunung Cut”.

Akan tetapi, gunung ini terkenal dengan nama “Gunung Cut Kecamatan Labuhanhaji, Aceh Selatan”.

Lokasinya berada di Gampong Tengah Baru, Dusun Suka Ramai, Kecamatan Labuhanhaji. Saya tahu lokasinya karena berhenti dan melihat sebuah plang terbuat dari semen, di atas tanah. Tulisannya hampir tertutupi rumput yang mulai meninggi. Saya perhatikan sekitarnya, masih asri. Tampak ada dua jalan lagi yang belum beraspal.

Jika dari sini kita harus memilih jalan sebelah kiri, bila ingin menuju Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji. Sekarang mudah mendaki gunung ini, karena sudah ada tangga yang terbuat dari semen. Sehingga, pendaki lebih cepat sampai ke puncak.

Penasaran yang sudah lama tersimpan dalam hati, membuat saya nekat pergi ke sini seorang diri walau sedang puasa.

Saya menaiki anak tangga satu per satu sambil menghitungnya. Baru hitungan puluhan, saya berhenti. Mengembuskan napas sambil berujar dalam hati, “Rupanya gunung ini tinggi juga ya. Menaiki tangga sangat melelahkan, rasanya saya tidak sanggup mencapai puncak.”

Entah karena saya sedang puasa atau merupakan pendakian pertama saya di gunung ini. Tidak tahu apa penyebabnya.

Saya melangkah perlahan tanpa menghitungnya lagi. Di pertengahan gunung sebelah kanan saya ada sebuah pondok terbuat dari papan, bertutup sebagian saja, beratap seng, dan ada lampunya.

Di dalamnya kita bisa duduk-duduk, shalat, dan mengaji.

Ada kain sarung di atas pintu masuk yang tidak ada tutupnya. Tak tahu punya siapa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

JKA di Mata Hukum

 

JKA di Mata Hukum

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved