Jurnalime Warga
Pesona Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji
Warga di sekitar Gunuang Ketek Labuhanhaji tampak menjalani rutinitasnya. Para penjual kebutuhan pokok membuka toko, kedai,
Sewaktu saya mendaki tidak ada orang lain di atas gunung ini. Keberanian saya datang ke sana karena berniat baik, sudah berdoa, dan yakin Sang Pencipta selalu melindungi.
Hal tersebut muncul, sebelum melewati jalanan tanah pertama. Sesudah melewati pondok, saya fokus berjalan dengan melihat pijakan sambil berpegangan pada penyangga tangga besi bulat panjang. Saat berpegangan, terasa lebih mudah melangkah. Di situlah saya yakin akan sampai ke puncak walau dengan keringat bercucuran.
Setelah melewati tangga yang sangat panjang, akhirnya sampailah saya di Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji. Di atasnya masih asri, banyak pepohonan di sekitarnya. Tampak sawah-sawah milik warga, rumah-rumah penduduk, dan jalan raya. Seekor burung sedang terbang, ada tumpukan pasir di tanah yang ditumbuhi banyak rumput. Pemandangan sekelilingnya indah.
Sesudah tangga terakhir, ada sebuah bangunan kecil di puncak Gunuang Ketek. Tangganya terbuat dari besi bulat dan licin. Jumlah anak tangganya empat pijakan, tetapi jaraknya tidak dekat. Awalnya saya tidak berniat naik ke atasnya. Namun, rasa penasaran membuat saya naik tanpa pikir panjang. Bangunan tersebut bentuknya persegi empat, semua sisinya terbuka. Hanya bagian atasnya saja yang disemen semua, sehingga aman ketika orang berada di atasnya. Itulah satu-satunya bangunan yang ada di puncak gunung ini.
Dari sini terlihat jelas keindahan panorama yang ada di sekitar Gunuang Ketek. Saya hanya berdiri sambil menikmati embusan angin. Sangat nyaman rasanya, walau sang surya sudah mulai terik. Saya bersyukur bisa sampai ke sini. Rasa penasaran yang sudah lama bersemayan di kalbu perlahan hilang dengan sendirinya.
Setelah puas menikmati pemandangannya, saya pun turun perlahan dari bangunan tersebut. Sampai di bawah saya melihat sekelilingnya, berniat menghitung anak tangga sambil turun dari puncak gunung.
Menurut saya, anak tangga pertama, dimulai sebelum penyangganya. Hitungan berlangsung bersamaan kaki menginjak anak tangga, di pertengahan fokus saya terbagi karena melihat pondok, dari sini tampak jelas dalamnya. Kemudian melangkah turun lagi, sambil melanjutkan menghitung jumlah anak tangganya sampai yang terakhir.
Proses turun dari puncak Gunuang Ketek lebih mudah, tidak ketika naik. Banyak keringat keluar dari wajah, saya mengusap dengan tangan setelah selesai menghitung. Kalau tidak salah hitung, jumlah anak tangganya 170 pijakan.
Waktu masih menghitung anak tangga sambil melangkah, saya sudah melihat ada orang sedang menelepon di pinggir jalan yang belum beraspal. Sepeda motor berada di dekatnya. Dia memperhatikan saya tanpa suara. Lalu saya berkata, “Saya penasaran ada apa di puncaknya,
makanya saya mendaki gunung ini sendirian.”
Kemudian dia menjawab”Ya, tak masalah.”
Latas dia pergi ke jalan kecil dekat tangga dengan berjalan kaki. Setelah itu ia mengendarai sepeda motornya
menuju jalan raya.
Saya berhenti sebentar untuk menghilangkan letih, sambil membaca ulang tulisan alamat daerah tersebut, dan mencatatnya di ponsel.
Setelah itu, saya pulang melewati jalan raya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-OKE-BARU.jpg)