Kamis, 4 Juni 2026

Jurnalime Warga

Pesona Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji

Warga di sekitar Gunuang Ketek Labuhanhaji tampak menjalani rutinitasnya. Para penjual kebutuhan pokok  membuka toko, kedai,

Tayang:
Editor: mufti
IST
NURUL HUSNA, S.Pd., Gr., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UBBG Banda Aceh, guru honorer, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan 

Di samping jalan raya sebelum pulang ke rumah, saya menuju tempat tinggal seorang warga, yang belakang rumahnya sejajar dengan Gunuang Ketek. Tampak seorang siswa SMA. Saya bertanya, “Bangunan apa yang ada di atas Puncak Gunuang Ketek?”

Jawabannya, “Itu bangunan untuk tempat air. Yang membuat tangga dan tempat air tersebut adalah pihak Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I).”

Saya juga menanyakan berapa kali dia sudah naik ke puncak gunung. Jawabannya, “Lima kali. Ya, untuk menghilangkan bosan.” Ia juga mengatakan, “Sore hari di Gunuang Ketek tidak panas.”

Teman saya pernah berkata, “Pusat Kajian Tauhid Tasawuf ada di Desa Pawoh.” Desa tersebut berada di Kecamatan Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan.

Bagi yang berminat pergi ke Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji, sebaiknya mengenakan busana muslimah bagi perempuan. Untuk laki-laki, pakailah pakaian yang sopan.

Pergi ke gunung mana pun kita harus menjaga tingkah laku, sopan santun, dan jangan membuang sampah sembarangan.

Juga tidak boleh mengambil seuatu dari kawasan gunung tanpa izin serta tak boleh merusak apa pun yang ada di sana.

Dengan demikian, kita dapat menjaga hubungan baik dengan alam semesta. Kita jaga alam, alam jaga kita.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved