Sabtu, 23 Mei 2026

Kupi Beungoh

Tantangan Mendidik Anak di Era Digital 

Anak-anak kita tumbuh bukan hanya sebatas di lingkungan rumah dan sekolah, tetapi juga di dunia digital yang terbuka tanpa batas.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
IST
Tgk Akmal Abzal SHI MH 

Sebaliknya jika orang tua sendiri lalai dan terbuai tanpa kontrol maka anak akan hidup tanpa arah. Sebagaimana Peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. mengandung makna yang sangat dalam, khususnya jika dikaitkan dengan perilaku orang tua dalam mendidik anak.

Dalam konteks keluarga, orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Apa yang dilakukan orang tua, sekecil apa pun, akan direkam, ditiru, bahkan seringkali diperbesar oleh anak.

Maknanya, jika orang tua memberi contoh yang kurang baik meskipun terlihat ringan maka anak cepat menirunya dalam bentuk yang lebih besar atau lebih jauh menyimpang.

Sebaliknya, jika orang tua menampilkan akhlak yang baik, disiplin, dan tanggung jawab, maka nilai-nilai itu pula yang akan tumbuh dalam diri anak.

Di era digital saat ini, peribahasa ini menjadi semakin relevan. Ketika orang tua terlalu sibuk dengan gadget, kurang berinteraksi atau bersosialisasi, atau tidak bijak dalam menggunakan media sosial, anak akan meniru pola tersebut, bahkan bisa menjadi lebih ekstrem dengan menghabiskan waktu berjam-jam di dunia maya tanpa filter.

Jika orang tua mudah berkata kasar, menyebarkan informasi tanpa tabayyun, atau memperlihatkan emosi yang tidak terkendali di ruang digital, maka anak pun berangapan bahwa itu adalah hal yang wajar.

Sebaliknya, ketika orang tua menunjukkan sikap bijak dalam menggunakan teknologi, membatasi waktu layar, menggunakan media untuk hal yang bermanfaat, serta menjaga adab dalam berkomunikasi, Insya Allah anak akan tumbuh dengan kebiasaan yang lebih sehat dan terarah.

Dalam perspektif Islam, hal ini sejalan dengan konsep keteladanan (uswah hasanah). Pendidikan yang paling efektif bukanlah sekadar nasihat, tetapi contoh empiris atau nyata. Anak tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orang tua, tetapi lebih mudah meniru apa yang pertontonkan.

Islam juga mengajarkan bahwa pendidikan yang paling penting adalah pembentukan akhlak. Di tengah derasnya informasi digital, akhlak menjadi benteng utama bagi anak.

Ketika nilai kejujuran, tanggung jawab, rasa malu, dan kesopanan tertanam kuat, maka anak akan memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.

Teknologi sejatinya bukan musuh. Ia adalah media. Jika digunakan dengan benar, ia bisa menjadi sarana kebaikan dalam membantu anak belajar Al-Qur’an, memperluas wawasan, dan mengembangkan potensi diri. Namun jika dibiarkan tanpa arah, ia bisa menjadi pintu kerusakan.

Oleh karena itu, mendidik anak di era digital menuntut kesabaran, perhatian, dan doa yang terus-menerus. Orang tua tidak boleh menyerah, meskipun tantangan terasa semakin berat. Karena sesungguhnya, anak yang shalih adalah investasi terbesar dalam kehidupan.

Pada akhirnya, keberhasilan mendidik anak bukan hanya terlihat dari kecerdasan mereka, tetapi dari akhlak dan keimanan yang mereka miliki.

Ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Allah, berakhlak mulia, dan mampu menjaga dirinya di tengah zaman yang penuh godaan, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya sekaligus menjadi harapan setiap orang tua.

Semoga Allah SWT menolong kita dalam menjaga dan mendidik anak-anak tanyoe, serta menjadikan mereka generasi yang membanggakan di dunia dan menjadi penolong kita di akhirat. Amin (*)

*) Penulis adalah Pimpinan LPI Al Anshar

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya DI SINI

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved