Jumat, 8 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis?

Purbaya menjadi simbol dilema komunikasi publik pemerintah: antara transparansi dan sensasionalisme, antara proaktivitas dan populisme..

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Sejak dilantik sebagai Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa menampilkan gaya komunikasi yang berbeda.

Gaya komunikasinya jauh dari tradisi para pendahulunya seperti Sri Mulyani Indrawati, JB Sumarlin, atau Ali Wardhana, yang dikenal hati-hati, teknokratis, dan selalu memperhitungkan efek pernyataannya terhadap pasar. 

Purbaya muncul hampir setiap hari di media, menanggapi isu secara langsung, meluruskan hoaks, dan menjelaskan kebijakan publik dengan cara blak-blakan. 

Gaya ini, bila dilihat dari sejarah ekonomi global, cukup provokatif—menyerupai periode ketika komunikasi Menkeu yang terlalu intens biasanya menandakan ketidakstabilan ekonomi yang mendalam.

Baca juga: Aturan Baru Komdigi: Kenapa Semua Orang Tua Harus Senang?

Gaya “ceplas-ceplos” Purbaya, kadang disebut “koboi,” bukan sekadar ekspresi pribadi. 

Ini juga mencerminkan adaptasi terhadap strategi Presiden Prabowo Subianto: transparansi, respons cepat, keterlibatan publik, dan nada populis. 

Namun intensitas tampil di media menimbulkan risiko serius: publik dan pasar bisa merasakan krisis yang tidak nyata, sementara ekonomi fundamental relatif stabil. 

Dalam sejarah ekonomi, Menkeu yang terlalu banyak berbicara biasanya muncul ketika sistem finansial sedang rapuh—tetapi Indonesia saat ini belum menghadapi krisis sistemik. 

Pertanyaannya kemudian muncul: apakah frekuensi tinggi ini menunjukkan krisis terselubung, atau sekadar tarian populis dramatis?

Tak jelas apakah Purbaya sedang menyesuaikan dengan gaya kebijakan dan komunikasi populis Prabowo atau bahkan sedang menambah konsentrasi populis overdosis.

Populisme Finansial atau Kebijakan Nyata?

Dua kebijakan pemerintah Prabowo menjadi sorotan kritis.

Pertama, empat hari setelah dilantik, pemerintah mengumumkan pengucuran dana Rp200 triliun untuk HIMBARA, bank milik negara, dengan alasan menjaga likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Di atas kertas, angka ini spektakuler, seolah Menkeu baru siap “menyalakan mesin ekonomi.” Nyatanya, dana ini nyaris tak terserap. 

Dunia usaha dan UMKM enggan mengambil kredit karena bunga tinggi, prosedur rumit, dan risiko ekonomi yang masih terasa. 

Baca juga: Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia?

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved