Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Uang Mengendap, Kesehatan Dipangkas: Paradoks Anggaran Aceh

Pertanyaan yang muncul pun sederhana, tetapi sarat makna: jika anggaran masih tersisa, mengapa layanan kesehatan justru ditekan?

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Dampak dari kondisi ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga sosial. 

Penyesuaian JKA berpotensi memengaruhi akses layanan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang berada di wilayah abu-abu mereka yang tidak lagi tergolong miskin, tetapi juga belum sepenuhnya mapan secara ekonomi. 

Kelompok ini sangat rentan terdampak karena berisiko kehilangan jaminan kesehatan, sementara kemampuan untuk membayar secara mandiri masih terbatas.

Konsekuensinya tidak bisa dianggap sepele. Penundaan pengobatan, penurunan kualitas layanan yang diakses, hingga meningkatnya beban ekonomi rumah tangga menjadi risiko nyata. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi indikator kesehatan masyarakat secara keseluruhan, termasuk angka kesakitan dan kesejahteraan sosial.

Alokasi anggaran memberi manfaat nyata

Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa program jaminan kesehatan seperti JKA memiliki kontribusi signifikan terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 

Akses layanan yang lebih luas terbukti berkorelasi dengan penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta peningkatan harapan hidup. 

Oleh karena itu, setiap kebijakan yang mengurangi cakupan program harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan disertai dengan sistem pengganti yang benar-benar siap.

Situasi ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah. Persoalan yang dihadapi bukan semata-mata soal keterbatasan anggaran, melainkan bagaimana anggaran tersebut dikelola secara efektif dan tepat sasaran. 

Perbaikan harus dimulai dari tahap perencanaan yang lebih realistis, dilanjutkan dengan percepatan pelaksanaan program, serta penguatan pengawasan agar setiap alokasi anggaran benar-benar memberikan manfaat nyata.

Baca juga: JKA di Mata Hukum

Aceh tidak kekurangan sumber daya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dimiliki dapat diubah menjadi pelayanan publik yang efektif dan dirasakan langsung oleh masyarakat. 

Dalam konteks ini, mengurangi SiLPA bukan sekadar target administratif, tetapi merupakan bagian dari upaya menghadirkan negara secara nyata dalam kehidupan rakyat.

Pada akhirnya, pertanyaan mengapa program kesehatan ditekan sementara anggaran masih tersisa tidak boleh berhenti sebagai wacana.

 Ia harus dijawab dengan keberanian politik, kebijakan yang berpihak, serta komitmen kuat untuk menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.

Jika tidak, maka paradoks ini akan terus berulang uang mengendap, layanan dipangkas, dan masyarakat kembali menjadi pihak yang menanggung konsekuensinya.

*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved