Selasa, 19 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita?

Banda Aceh pernah memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun dengan APBD atau masterplan: karakter kosmopolit. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Namun di tengah semua itu, ada godaan besar yang selalu muncul dalam sejarah kota-kota yang ingin “naik kelas”: menjadi versi lain dari kota global yang dianggap sukses. 

Imajinasi seperti “Singapore blue zone 2.0” sering muncul sebagai simbol aspirasi modernitas - kota yang efisien, tertata, kompetitif, dan menarik bagi dunia luar. 

Tetapi sejarah perkotaan memberi kita pelajaran yang tidak nyaman: kota yang terlalu sibuk menjadi orang lain sering kehilangan dirinya sendiri.

Risiko Terbesar

Dan di sinilah risiko terbesar Banda Aceh berada.

Karena dalam proses modernisasi, yang sering hilang bukan gedung lama, tetapi karakter sosial kota itu sendiri. 

Keterbukaan berubah menjadi selektivitas. Kosmopolitanisme berubah menjadi memori yang tidak lagi hidup. Kota menjadi lebih rapi, tetapi juga lebih sempit secara sosial.

Maka gagasan yang lebih menarik - dan lebih menantang - bukanlah “Singapore 2.0”, melainkan sesuatu yang lebih tidak populer: blue zone 2.0.

Baca juga: BAA Talks, Illiza Kenalkan Banda Aceh Academy

Blue zone - dalam pengertian ini - bukan sekadar konsep umur panjang. 

Blue zone 2.0 adalah kota yang secara sadar membangun ekosistem kehidupan yang memungkinkan warganya hidup lebih lama, lebih sehat, lebih tenang, dan lebih terhubung secara sosial. 

Blue zone 2.0 adalah kota yang tidak terobsesi dengan percepatan, tetapi dengan kualitas ritme hidup. 

Kota yang tidak mengukur dirinya hanya dengan  pertumbuhan ekonomi atau investasi, tetapi dengan kualitas relasi antar manusia.

Blue zone 2.0 berarti sebuah koreksi radikal terhadap logika kota modern: bahwa tujuan akhir kota bukan efisiensi maksimum, tetapi kehidupan manusia yang lebih utuh. 

Baca juga: Pansus DPRK Banda Aceh Tekankan Penyerahan Aset Tingkatkan Pelayanan Air Bersih

Kota yang benar-benar berada di jalur ini tidak akan terlihat paling cepat tumbuh, tetapi paling masuk akal untuk dihuni.

Di titik ini, pertanyaan untuk Banda Aceh menjadi jauh lebih tajam: apakah kota ini sedang bergerak menuju sekadar modernitas yang dikurasi, atau menuju bentuk peradaban perkotaan yang lebih matang secara manusiawi?

Karena kota tidak mati ketika bangunannya runtuh. Kota mati ketika ia berhenti menjadi ruang yang menerima perbedaan, berhenti menjadi ruang yang membiarkan manusia hidup dalam kompleksitasnya.

Baca juga: Upacara HUT Ke-821 Banda Aceh Berlangsung Meriah, Wali Kota Illiza Beberkan Sejumlah Capaian Penting

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved