Pojok Humam Hamid
821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita?
Banda Aceh pernah memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun dengan APBD atau masterplan: karakter kosmopolit.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Di ujung paling barat Nusantara, Banda Aceh merayakan 821 tahun usianya. Tetapi mari jujur sejak awal: angka umur kota tidak pernah berarti apa-apa jika kita tidak berani bertanya pertanyaan yang lebih mengganggu.
Apakah kota ini sedang naik kelas dalam sejarah, atau justru perlahan kehilangan karakter yang pernah membuatnya relevan?
Dalam sejarah peradaban, kota-kota tidak runtuh karena mereka miskin infrastruktur.
Mereka runtuh karena kehilangan daya imajinasi, kehilangan keterbukaan, dan berhenti menjadi ruang pertemuan gagasan.
Itulah konteks yang lebih jujur untuk membaca Banda Aceh hari ini.
Baca juga: HUT Banda Aceh Meriah, Wali Kota Beberkan Sejumlah Capaian
Dalam lanskap perkotaan modern, kita terus dibanjiri jargon: sustainability - keberlanjutan, yaitu kemampuan kota untuk bertahan tanpa mengorbankan masa depan demi kenyamanan sesaat.
Liveability - kelayakan hidup, yaitu kualitas nyata kehidupan sehari-hari warga, bukan sekadar estetika kota atau proyek kosmetik.
Hal lain yang sering dikumandangkan adalah ambisi menjadi kota global yang kompetitif.
Tetapi di titik ini, pertanyaan yang lebih tajam harus diajukan: apakah Banda Aceh sedang membangun masa depan, atau sedang meniru template kota lain yang belum tentu cocok dengan sejarahnya sendiri?
Karena ada sesuatu yang lebih fundamental dari sekadar pembangunan fisik - DNA kota ini sendiri.
Banda Aceh pernah memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun dengan APBD atau masterplan: karakter kosmopolit.
Baca juga: Ketua DPRK Pimpin Paripurna HUT Banda Aceh, Peserta Dibaluti Pakaian Adat Aceh
Ia pernah menjadi ruang di mana perbedaan tidak diperlakukan sebagai ancaman, tetapi sebagai fakta kehidupan sehari-hari.
Kota pelabuhan, kota persinggahan, kota pertemuan arus manusia dan gagasan.
Tidak romantik, tidak idealis - tetapi nyata dalam struktur sosialnya.
Modernisasi atau Penyusutan Sosial?
pojok humam hamid
Ahmad Humam Hamid
Prof Humam Hamid
HUT Banda Aceh
HUT Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh
Meaningful
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)