Kupi Beungoh
PR untuk Rektor dan MPA: Menyoal Peringkat Pendidikan Aceh 2026
Peringkat kampus Aceh anjlok dari 10 besar, jadi alarm serius. Perlu pembenahan mutu pendidikan, kepemimpinan kampus, dan peran MPA.
Selanjutnya adalah Prof Dr Saifullah MAg, tamatan S2/S3 dari UIN Yogyakarta, disusul Prof Dr Inayatillah MAg, tamatan S2 UIN Ar-Raniry dan S3 UM Malaysia, serta Prof Dr Mujiburrahman MAg, tamatan S2 UIN Bandung, S3 UUM Malaysia (Lihat: Sosok 4 Guru Besar yang Daftar Bakal Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030, Serambi Indonesia, edisi 3 April 2026).
Menteri Agama RI akan menetapkan satu dari empat nama tersebut di atas sebagai Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030. Tentu banyak pihak yang mengharapkan agar terpilih sosok yang mampu mengangkat mutu pendidikan tinggi Aceh agar masuk dalam 5 atau 10 besar PTKIN terbaik di Indonesia dan “jantong hate” yang sedang sakit akan sembuh.
Rektor UIN Ar-Raniry ke depan, selain harus mampu mengangkat mutu pendidikan agar masuk dalam Top 5 atau Top 10, juga perlu menjadikan kampus memiliki daya pikat di tinggat regional.
Rektor UIN Ar-Raniry ke depan mesti memiliki jaringan global (international and regional networking) sehingga mampu melibatkan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan internasional, baik di LN maupun di Indonesia, dan Aceh.
Kelas internasional dan pembelajaran dengan bahasa pengantar Inggris (English) dan Arab (Arabic) perlu digalakkan di lingkungan UIN Ar-Raniry. Rektor harus mengajak mahasiswa S1 untuk tidak grogi tampil dalam forum-forum regional dan internasional.
Jika tahun 2025, di UIN Ar-Raniry tampil dua akademisi yang mendapat pengakuan global (top 2 % scientist worldwide), yaitu Prof Muhammad Siddiq Armia dan Prof Mursyid Djawas, maka ke depan perlu dibuka jalan yang sama untuk mahasiswa (https://literatif.com/dua-dosen-uin-ar-raniry-masuk-daftar-top-2-persen-ilmuwan-dunia).
Muhammad Siddiq Armia dan Mursyid Djawasa dapat dijadikan model terbaik akademisi di lingkungan UIN Ar-Raniry dalam proses kaderisasi atau “penularan” kesuksesan kepada mahasiswa.
Aceh Pusat Studi Islam Dunia
Selain itu, reputasi Banda Aceh sebagai pusat kajian keislaman bagi dunia Melayu (Asia Tenggara) seperti era Kesultanan Aceh Darussalam perlu dikembalikan. Representasi kantor Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) perlu dibuka di UIN Ar-Raniry dalam upaya mendorong animo mahasiswa asal Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina hingga Kamboja dan Vietnam datang untuk belajar ke Aceh.
Selama ini, mahasiswa asal Thailand Selatan (Pattani, Yala, Narathiwat, Satun, Songkla) lebih banyak memilih belajar di Unsyiah, dan beberapa PTS seperti Universitas Serambi Mekkah, Unida, UBBG, atau Unaya. Sejatinya, Rektor UIN Ar-Raniry mampu menarik minat mereka juga.
Menyorot Peran MPA
Majelis Pendidikan Aceh (MPA) adalah lembaga keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan. Lembaga ini lahir dalam rangka mewujudkan pendidikan Aceh yang memiliki ciri khas dan unggul dari provinsi manapun.
Kantor MPA terletak dalam Kompleks Keistimewaan Aceh, satu kompleks dengan Dinas Syariat Islam, Mahkamah Syar’iyyah, Majelis Adat Aceh (MAA), dan lembaga keistimewaan lain.
Sudah lebih 20 tahun MPA berdiri, namun kondisi pendidikan Aceh masih jalan di tempat. Padahal lembaga ini diisi oleh banyak ilmuwan, bahkan bertabur professor.
Bisa jadi, tidak transparannya dalam perekrutan komesioner menjadi salah satu sebab MPA tak pernah bekerja on the track.
Pada 24 Mei 2024 lalu, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) pernah mempersoalkan adanya komesioner dan calon komesioner MPA yang rangkap jabatan, padahal itu tidak dibenarkan (https://nukilan.id/pertanyakan-rangkap-jabatan-akademisi-di-mpa-yara-surati-rektor-uin-ar-raniry).
Mengacu pada rata-rata nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) masuk PTN yang dilaksanakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), didapati mutu pendidikan level SMA/MA/SMK di Aceh rendah. Ini dibuktikan dari perolehan nilai rata-rata siswa asal SMA di Aceh bidang Sosial Humaniora (Soshum) dan Sainstek.
| Membaca Meritokrasi UTBK dan Daya Saing Lulusan Aceh dalam Seleksi Masuk PTN |
|
|---|
| Day Care, Kualifikasi Pengasuh, dan Urgensi Perlindungan Anak |
|
|---|
| Senjakala Ruang Aman Anak |
|
|---|
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Redha-R-Thogam-SSosI-SpPSMAlumnus-S2-Sekolah.jpg)