Jumat, 1 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian

Apa arti “survival mode” dalam konteks negara? Dalam bahasa kebijakan publik, ia berarti bahwa pilihan menjadi lebih terbatas.

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Karena ia menenangkan - dan dalam politik ekonomi, ketenangan yang prematur bisa menjadi bentuk kelengahan yang paling mahal.

Menjadi Lebih Terbatas

Apa arti “survival mode” dalam konteks negara? Dalam bahasa kebijakan publik, ia berarti bahwa pilihan menjadi lebih terbatas. 

Setiap keputusan memiliki konsekuensi yang lebih cepat terasa. Setiap kesalahan membawa efek rambatan yang lebih luas. 

Dan setiap penundaan berpotensi memperbesar biaya di masa depan. Dengan kata lain, ini bukan krisis - tetapi juga bukan normalitas.

Baca juga: Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Ketahanan Pangan Prabowo dalam Ancaman

Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa fase seperti ini adalah fase yang paling sulit dibaca. Krisis total memaksa tindakan cepat. 

Masa pertumbuhan memberi ruang eksperimen. Tetapi zona abu-abu - di mana tekanan ada tetapi belum meledak - menuntut sesuatu yang lebih sulit: disiplin tanpa panik, kehati-hatian tanpa stagnasi.

Di tingkat global, kita dapat melihat spektrum yang cukup jelas.

Pada satu ujung, terdapat negara-negara seperti Sudan, Lebanon, dan Venezuela - di mana kapasitas fiskal dan politik telah tergerus sedemikian rupa sehingga fungsi dasar negara terganggu. 

Ini adalah contoh “survival mode” dalam bentuk paling ekstrem: negara bertahan, tetapi nyaris tanpa kendali.

Pada level berikutnya, terdapat negara seperti Filipina, Pakistan, dan Mesir. Institusi mereka masih berjalan, tetapi di bawah tekanan kronis. 

Mereka tidak runtuh, tetapi terus-menerus berada dalam kondisi rentan terhadap guncangan eksternal.

Baca juga: Indonesia di Era “Donroe”: Ujian Kapasitas Negara di Tengah Ambruknya Multilateralisme

Indonesia tidak berada di kedua kategori ini. Ia lebih dekat dengan kelompok negara seperti India dan Meksiko - negara-negara yang tetap tumbuh, mempertahankan fungsi institusional, tetapi menghadapi tekanan struktural yang tidak bisa diabaikan. 

Di atas kertas, ini adalah posisi yang relatif nyaman. Dalam praktiknya, ini adalah posisi yang menuntut presisi tinggi.

Karena di zona ini, kesalahan tidak langsung menghancurkan - tetapi terakumulasi.

Belajar dari Pengalaman

Keunggulan Indonesia sering kali dirujuk pada satu hal: pengalaman krisis. Negara ini tidak asing dengan guncangan. Bahkan, dalam banyak hal, ia dibentuk oleh guncangan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved