Jumat, 1 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian

Apa arti “survival mode” dalam konteks negara? Dalam bahasa kebijakan publik, ia berarti bahwa pilihan menjadi lebih terbatas.

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Dalam jangka panjang, pertanyaannya menjadi lebih eksistensial: apakah model pertumbuhan yang selama ini diandalkan masih relevan dalam dunia yang lebih terfragmentasi?

Di sinilah narasi “survival mode” harus diuji secara kritis. Apakah ia mendorong disiplin - atau justru membatasi imajinasi?

Karena ada risiko bahwa istilah ini, jika tidak hati-hati digunakan, dapat menjadi pembenaran bagi status quo. 

Baca juga: VIDEO IRGC Disebut Kuasai Iran di Tengah Perang, dilaporkan mengalami perubahan signifikan

Negara menjadi terlalu fokus pada stabilitas jangka pendek, sementara reformasi struktural terus ditunda dengan alasan ketidakpastian.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru terjadi dalam kondisi tekanan. 

Krisis - atau bahkan bayangan krisis - sering kali menjadi katalis bagi reformasi yang sebelumnya dianggap terlalu sulit.

Dalam konteks Indonesia, beberapa agenda tidak lagi bisa diperlakukan sebagai proyek jangka panjang yang fleksibel. 

Diversifikasi energi bukan sekadar pilihan strategis; ia adalah kebutuhan untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan global. 

Ketahanan pangan bukan sekadar isu sektor pertanian; ia adalah fondasi stabilitas sosial. 

Baca juga: Puasa Arafah, Jangan Lewatkan, Ini Lima Keutamaan Salah Satunya Menghapus Dosa 2 Tahun

Efisiensi fiskal bukan sekadar soal angka; ia adalah prasyarat untuk menjaga ruang kebijakan tetap terbuka.

Yang tidak kalah penting adalah komunikasi publik. Dalam fase “survival mode”, persepsi dapat bergerak lebih cepat daripada realitas ekonomi. 

Ketidakpastian yang tidak dikelola dapat berubah menjadi ketidakpercayaan. Dan dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah variabel yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

Namun semua ini kembali pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana negara membaca dirinya sendiri?

Survival Mode sebagai Alat Analisis

Jika Indonesia melihat “survival mode” sebagai kondisi sementara yang menuntut disiplin, maka ia dapat menjadi fondasi untuk kebijakan yang lebih hati-hati tetapi tetap progresif. 

Namun jika ia dipahami sebagai kondisi permanen yang harus dihindari risikonya dengan segala cara, maka ia berpotensi mengarah pada stagnasi yang terselubung.

Di sinilah letak dilema sebenarnya. Negara tidak boleh bereaksi berlebihan.

Tetapi ia juga tidak boleh terlalu percaya diri. Ia harus berjalan di antara dua ekstrem: kepanikan dan kelengahan.

Dan itu bukan tugas yang mudah.

Baca juga: Aceh Paper Art Kolektif Akan Gelar Menggambar Bersama Gratis di Taman Seni Budaya Aceh

Pada akhirnya, “survival mode” bukanlah konsep yang harus ditolak atau diterima secara mentah. 

Ia adalah alat analisis - dan seperti semua alat, nilainya tergantung pada bagaimana ia digunakan.

Ia bisa menjadi peringatan yang berguna: bahwa ruang kebijakan menyempit, bahwa risiko meningkat, dan bahwa disiplin menjadi lebih penting. 

Tetapi ia juga bisa menjadi ilusi yang menenangkan: bahwa selama negara masih bertahan, tidak ada yang perlu diubah secara mendasar.

Sejarah tidak berpihak pada ilusi.

Negara-negara yang berhasil bukanlah mereka yang tidak pernah menghadapi tekanan, tetapi mereka yang mampu membaca tekanan dengan tepat - dan meresponsnya sebelum menjadi krisis.

Baca juga: VIDEO Iran Luncurkan Kekuatan Angkatan Laut Baru di Hormuz

Indonesia memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara: pengalaman. 

Ia telah melalui krisis besar dan keluar dengan kapasitas yang lebih baik. Namun pengalaman bukan jaminan. Ia hanya menyediakan referensi.

Yang diuji hari ini adalah apakah referensi itu masih relevan dalam dunia yang berbeda.

Karena pada akhirnya, pertanyaan tentang “survival mode” bukanlah pertanyaan tentang bertahan hidup.

Ia adalah pertanyaan tentang arah.

Apakah Indonesia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak jatuh? Ataukah ia masih memiliki ambisi untuk melangkah lebih jauh - bahkan ketika jalannya menjadi lebih sempit?

Karena sejarah, pada akhirnya, tidak mencatat negara yang sekadar selamat.

Sejarah mencatat negara yang tahu kapan harus bertahan - dan kapan harus melampaui sekadar bertahan.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved