Pojok Humam Hamid
Purbaya, “Indonesia Survival Mode”: Diagnosis, Peringatan, dan Reportoar Kehati-hatian
Apa arti “survival mode” dalam konteks negara? Dalam bahasa kebijakan publik, ia berarti bahwa pilihan menjadi lebih terbatas.
Krisis Finansial Asia 1997–1998 adalah titik balik paling dramatis. Ia bukan sekadar krisis ekonomi, tetapi krisis eksistensial.
Sistem keuangan runtuh, nilai tukar kolaps, dan struktur politik mengalami perubahan mendasar.
Baca juga: Prabowo dan Transisi Yang Belum Selesai: Inversi Model Mahathir-Najib Atau Sebaliknya?
Dari kekacauan itu, Indonesia membangun ulang institusinya - sering kali dengan cara yang tidak sempurna, tetapi cukup untuk bertahan.
Krisis Keuangan Global 2008 menjadi ujian berikutnya. Kali ini, Indonesia tidak runtuh. Reformasi perbankan dan kebijakan makro yang lebih hati-hati memberikan bantalan.
Ini adalah momen ketika negara mulai menunjukkan bahwa ia tidak hanya bisa pulih, tetapi juga belajar.
Kemudian datang Pandemi COVID-19 - krisis yang berbeda dalam skala dan kompleksitas. Ini bukan hanya krisis ekonomi, tetapi juga krisis kesehatan dan sosial.
Baca juga: Pembangunan 50 Kota Prioritas Nasional: Mengapa Kota-Kota di Aceh Terabaikan?
Respons negara - melalui stimulus fiskal, bantuan sosial, dan intervensi kebijakan - menunjukkan adanya refleks yang lebih adaptif.
Dari tiga episode ini, terbentuk apa yang dapat disebut sebagai repertoar kehati-hatian.
Ini bukan teori formal, melainkan kebiasaan institusional: kecenderungan untuk menjaga stabilitas, menghindari kepanikan, dan memperbaiki secara bertahap.
Namun setiap repertoar memiliki batas. Ia efektif untuk krisis yang familiar. Ia kurang siap untuk dunia yang berubah secara struktural.
Dan dunia hari ini memang sedang berubah.
Konflik geopolitik di kawasan energi, khususnya di Timur Tengah, tidak lagi sekadar gangguan sementara.
Baca juga: Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global
Ia berpotensi mengubah struktur harga energi global. Pada saat yang sama, fragmentasi rantai pasok dan meningkatnya proteksionisme menciptakan lingkungan yang lebih mahal dan kurang dapat diprediksi.
Dalam jangka pendek, dampaknya terlihat jelas: tekanan pada nilai tukar, kenaikan harga komoditas, dan volatilitas pasar.
Dalam jangka menengah, dampaknya lebih subtil tetapi lebih dalam: inflasi pangan, tekanan fiskal, dan dilema kebijakan subsidi.
| Posisi Strategis Selat Malaka dalam Integrasi Jalur Energi dan Perdagangan Global |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ahmad-Humam-Hamid-perang-tarif.jpg)