Jumat, 1 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian

Masyarakat internasional mendesak para pihak agar segera berdamai, mendukung untuk menghentikan perang dan kekerasan.

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yunidar Z.A, anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) 

Kini konflik telah berlangsung, akibatnya muncul luka, dendam, dan ketidakpercayaan yang mendalam. Dalam kondisi tersebut, peran pihak ketiga menjadi sangat penting. 

Mediasi, negosiasi, dan fasilitasi dialog tidak dapat berjalan efektif tanpa adanya aktor yang dipercaya oleh semua pihak. 

Pihak ketiga ini bisa berupa negara netral, organisasi internasional, atau tokoh-tokoh yang memiliki legitimasi moral dan politik.

Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan perdamaian seringkali ditentukan oleh kemampuan pihak ketiga dalam membangun jembatan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tidak ada kesepahaman. 

Tanpa kesepahaman, tidak ada perjanjian yang dapat bertahan. Oleh karena itu, kehadiran mediator bukan sekadar formalitas. 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian

Tapi, menjadi fondasi penting dalam proses transformasi konflik dari kekerasan menuju dialog, keadilan, dan kesetaraan.

Di sisi lain, terdapat realitas yang tidak bisa diabaikan bahwa konflik (perang) telah menjadi bagian dari sistem ekonomi global. 

Industri persenjataan, perlombaan militer, dan kepentingan geopolitik menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “jaringan perang”. 

Dalam jaringan ini, konflik tidak hanya dilihat sebagai tragedi, namun juga sebagai peluang keuntungan. 

Inilah yang membuat upaya perdamaian seringkali berhadapan dengan kepentingan besar yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Sebagai jembatan penengah yang berpihak pada kemanusian dan peradaban, perlu dibangun “jaringan perdamaian” yang kuat dan berkelanjutan.

Jaringan ini melibatkan negara, masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas internasional yang memiliki komitmen terhadap resolusi konflik, transformasi konflik menuju perdamian. 

Bukan Harapan Normatif

Perdamaian harus menjadi nilai yang diperjuangkan secara sistematis, sebagai sebuah gerakan perdamaian, sosialisasi anti kekerasan, bukan sekadar harapan normatif. 

Kampanye perdamaian harus masuk dalam kebijakan, pendidikan, pemikiran dan praktik kehidupan sehari-hari.

“Tidak ada tempat bagi kekerasan di dunia”. Tegas Aktor dan Sutradara  George Clooney, saat menerima penghargaan bergengsi Chaplin Award dari Film at Licoln Center di Alice Tully Hall, New York. Amerika Serikat (27/4). (Media Indonesia 30/4). 

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved