Kupi Beungoh
Dokter Internsip dalam Jerat Bullying Sistemik
Dokter internsip masuk ICU diduga akibat perundungan. Prof Rajuddin soroti bullying sistemik, ancam keselamatan dokter muda dan pasien.
Keempat, pembimbing klinis perlu diposisikan sebagai pendidik profesional yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga memiliki kapasitas pedagogis. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali, dievaluasi, dan dimintai pertanggungjawaban atas proses pembelajaran yang berlangsung di bawah bimbingan mereka.
Reformasi sistem pendidikan kedokteran
Reformasi sistem tidak akan cukup tanpa perubahan budaya; harus berani mengakhiri penderitaan anak didik dalam pendidikan kedokteran. Menjadi dokter bukan berarti harus mengorbankan kesehatan diri sendiri. Profesionalisme tidak lahir dari tekanan yang menghancurkan, melainkan dari pembelajaran yang terarah, reflektif, dan manusiawi.
Kasus perundungan (bullying) ini mencerminkan masalah klasik dalam sistem kesehatan kita. Masalah ketergantungan pada tenaga murah untuk menutup kekurangan sumber daya, seperti rumah sakit yang kekurangan dokter, membuat internship dijadikan solusi instan. Ketika sistem tidak efisien, beban dialihkan kepada individu yang paling lemah posisinya.
Kasus yang menimpa dr. Myta seharusnya menjadi titik balik, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk membongkar akar masalah. Jika tidak, kita sedang menunggu korban berikutnya. Kita harus jujur pada diri sendiri: apakah kita ingin mempertahankan sistem yang “terlihat kuat” tetapi sebenarnya rapuh, atau berani membangun sistem yang adil, aman, dan berkelanjutan?
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kualitas sistem kesehatan tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kelengkapan fasilitas, melainkan oleh bagaimana manusia di dalamnya berperilaku. Dokter muda bukan bagian dari rantai pelayanan, dokter muda adalah aset masa depan yang harus dilindungi, dibimbing, dan dibentuk dalam lingkungan yang aman dan bermartabat.
Ketika sistem pendidikan mulai mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan peserta didiknya, sesungguhnya ia sedang menggerus fondasi profesionalisme itu sendiri. Dan ketika dokter tidak lagi merasa aman dalam sistemnya, keselamatan pasien pun ikut terancam. Akhirnya, masa depan pelayanan kesehatan ditentukan oleh bagaimana kita menjaga mereka yang hari ini sedang kita didik. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh.
| Hardiknas dan Ruang Kelas yang Sunyi: Benarkah Anak Sudah Merdeka Belajar? |
|
|---|
| Ruang Aman Bagi Anak dalam Sistem Pengasuhan |
|
|---|
| Catatan Kritis Pendidikan Indonesia pada Hardiknas 2026 |
|
|---|
| Kepemimpinan Perempuan dalam Pendidikan: Substansi atau Sekadar Simbol? |
|
|---|
| May Day 2026 Menjadi Momentum Refleksi Bagi Dunia Ketenagakerjaan Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-dr-Rajuddin-SpOGK-SubspFER-17-11.jpg)