Kupi Beungoh
Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi
Skandal mafia sitasi dibongkar. Kampus dinilai sibuk mengejar ranking Scopus, tetapi miskin gagasan besar dan integritas akademik.
Dalam tradisi universitas klasik, profesor dihormati bukan karena banyaknya artikel, tetapi karena kapasitasnya melahirkan paradigma, membangun mazhab pemikiran, dan menjadi rujukan etik bagi masyarakat. Ketika profesor direduksi hanya menjadi capaian administratif berbasis indeksasi, maka universitas sedang kehilangan ruhnya.
Merusak Kepercayaan Global
Lebih berbahaya lagi, budaya akademik semacam ini perlahan merusak kepercayaan global terhadap publikasi Indonesia.
Dunia internasional tidak bodoh. Ketika pola sitasi yang tidak wajar terbaca, maka reputasi akademik nasional ikut dipertaruhkan. Ia dapat menjadi aib yang akan diwariskan.
Kita mungkin memperoleh ranking tinggi dalam waktu singkat melalui rekayasa, tetapi kehilangan kredibilitas dalam jangka panjang.
Padahal universitas besar dunia dibangun bukan melalui manipulasi metrik, melainkan melalui tradisi intelektual yang panjang. Harvard University tidak menjadi besar karena permainan sitasi.
University of Oxford tidak dihormati karena rekayasa indeks. Mereka dihormati karena keberanian melahirkan pemikiran yang mengubah dunia. Indonesia, termasuk Aceh, seharusnya belajar dari sana.
Universitas tidak boleh direduksi menjadi industri angka. Kampus harus kembali menjadi rumah peradaban: tempat lahirnya kritik sosial, etika publik, keberanian intelektual, dan pemikiran besar tentang masa depan bangsa.
Jika tidak, maka kita hanya akan melahirkan generasi akademik yang mahir bermain statistik, tetapi miskin orisinalitas dan keberanian berpikir.
Perlu Evaluasi
Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan publikasi nasional sudah menjadi kebutuhan mendesak. Negara harus menghentikan obsesi berlebihan terhadap Scopus sebagai satu-satunya ukuran mutu akademik.
Kualitas riset harus diukur dari dampaknya terhadap ilmu pengetahuan, masyarakat, kebijakan publik, dan kemanusiaan — bukan sekadar dari angka sitasi yang sering kali manipulatif.
Jangan sampai publik digiring untuk percaya bahwa tingginya sitasi, banyaknya jurnal terindeks, atau melonjaknya jumlah profesor otomatis membuktikan keberhasilan seorang rektor atau pimpinan kampus.
Tidak. Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas universitas sebagai institusi ilmu dan peradaban.
Kepemimpinan akademik yang sejati justru terlihat dari kemampuannya membangun budaya berpikir kritis, integritas ilmiah, kebebasan akademik, dan keberanian moral di dalam kampus.
Jika tidak, maka kampus-kampus Indonesia akan terus hidup dalam ilusi kejayaan akademik — tampak gemilang di tabel ranking, tetapi sunyi dalam percakapan intelektual dunia.
Dan sejarah selalu mengajarkan satu hal penting: peradaban besar tidak dibangun oleh manipulasi angka, tetapi oleh kejujuran ilmu pengetahuan dan keberanian berpikir melampaui zamannya. Semoga!
Sagoe Atjeh Rayeuk, 14 Mei 2026
Penulis adalah Pengamat Politik dan Akademisi Ketua Program Doktor (S3) Pendidikan IPS 2014 - 2022 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Muhammad-Jamil-14.jpg)