Kamis, 14 Mei 2026

Kupi Beungoh

Dari PCOS Menuju Era PMOS

Evolusi medis! PCOS kini berganti nama menjadi PMOS. Simak penjelasan Prof. Rajuddin tentang revolusi diagnosis & kesehatan sistemik perempuan.

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER 

Istilah “polyendocrine” menegaskan bahwa gangguan ini melibatkan banyak sistem hormonal secara bersamaan. Selama ini publik cenderung memahami PCOS hanya sebagai gangguan ovarium.

Padahal, inti masalahnya jauh lebih kompleks: hiperandrogenisme, gangguan pulsasi GnRH dan LH, resistensi insulin, disfungsi adipokin, hingga interaksi neuroendokrin.

Komponen “metabolic” dimasukkan karena bukti ilmiah menunjukkan bahwa resistensi insulin merupakan salah satu fondasi utama penyakit ini. Bahkan pada perempuan dengan berat badan normal, gangguan sensitivitas insulin tetap dapat ditemukan.

Meta-analisis internasional menunjukkan bahwa pasien dengan PCOS memiliki peningkatan risiko diabetes tipe 2, dislipidemia, hipertensi, fatty liver disease, dan penyakit kardiovaskular.

Sementara istilah “ovarian” tetap dipertahankan karena ovarium memang menjadi organ sentral dalam manifestasi klinis penyakit ini. Gangguan folikulogenesis, anovulasi kronik, haid tidak teratur, infertilitas, dan peningkatan AMH tetap merupakan bagian penting dari spektrum PMOS.

Dengan demikian, PMOS mencoba menghadirkan nomenklatur yang lebih jujur terhadap ilmu pengetahuan modern.

Pergeseran Paradigma Kedokteran Perempuan

Perubahan nama ini sesungguhnya mencerminkan pergeseran paradigma besar dalam kesehatan perempuan. Selama bertahun-tahun, gangguan reproduksi perempuan sering dipersempit hanya pada fungsi fertilitas. Perempuan dianggap “sakit” ketika tidak bisa hamil, sementara aspek metabolik, psikologis, dan kualitas hidup sering kali diabaikan.

Padahal PMOS bukan sekadar persoalan reproduksi, melainkan kondisi kronik multisistem yang memengaruhi kesehatan perempuan sepanjang hidup. Perempuan dengan PMOS memiliki risiko depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

Mereka juga lebih rentan mengalami gangguan citra tubuh akibat obesitas, jerawat, dan hirsutisme. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko gangguan tidur dan obstructive sleep apnea.

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur serius yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang (total atau sebagian) saat tidur akibat penyumbatan saluran napas bagian atas. Kondisi ini menyebabkan kadar oksigen menurun, sering terbangun, dan tidur tidak berkualitas, dengan gejala utama berupa mendengkur keras dan kantuk berlebihan di siang hari.

Karena itu, tata laksana PMOS tidak boleh lagi bersifat parsial. Pendekatan “yang penting haid lancar” atau “yang penting hamil” sudah tidak relevan lagi.

Tata laksana modern harus melibatkan pendekatan multidisiplin: obstetri-ginekologi, endokrinologi reproduksi, nutrisi, psikiatri atau psikologi, dermatologi, hingga kedokteran olahraga. Di era kedokteran presisi, PMOS memperlihatkan bagaimana satu penyakit dapat memiliki spektrum biologis yang sangat luas.

Implikasi untuk pendidikan kedokteran

Perubahan nomenklatur ini juga memiliki implikasi besar bagi pendidikan kedokteran, termasuk di Indonesia.

Kurikulum mahasiswa kedokteran dan PPDS obstetri-ginekologi perlu beralih dari pendekatan organ-based menjadi sistem-based. Mahasiswa harus memahami bahwa diagnosis PMOS tidak boleh hanya didasarkan pada hasil ultrasonografi.

Pada remaja, misalnya, ovarium multifolikular dapat menjadi variasi fisiologis pubertas. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved