Kupi Beungoh
Dari PCOS Menuju Era PMOS
Evolusi medis! PCOS kini berganti nama menjadi PMOS. Simak penjelasan Prof. Rajuddin tentang revolusi diagnosis & kesehatan sistemik perempuan.
Karena itu, pedoman internasional terbaru ini bahkan tidak lagi menganjurkan USG sebagai dasar diagnosis PMOS pada remaja.
Diagnosis lebih menekankan pada kombinasi gangguan ovulasi dan hiperandrogenisme. Ini penting untuk mencegah overdiagnosis dan labeling yang tidak perlu. Banyak remaja mengalami kecemasan psikologis berat setelah diberi label PCOS hanya berdasarkan gambaran pada USG.
Selain itu, pendidikan dokter harus mulai menempatkan PMOS sebagai bagian dari epidemi penyakit metabolik secara global. Dunia menghadapi peningkatan obesitas, sedentary lifestyle, konsumsi ultra-processed food, dan gangguan metabolik sejak usia muda. Dalam konteks ini, PMOS bukan hanya isu reproduksi, tetapi juga isu kesehatan masyarakat.
Tantangan implementasi, meski secara ilmiah perubahan ini sangat kuat, implementasinya tentu tidak sederhana. Sistem rekam medis, kode ICD, buku ajar, guideline nasional, jurnal ilmiah, hingga sistem pembiayaan kesehatan seperti BPJS memerlukan adaptasi secara bertahap.
Konsensus The Lancet sendiri menyebutkan adanya masa transisi global selama 3 tahun. Selama periode ini, istilah PMOS kemungkinan akan digunakan berdampingan dengan PCOS untuk menghindari kebingungan klinis dan administratif.
Indonesia juga perlu berhati-hati dalam proses adopsi. Sosialisasi kepada dokter layanan primer sangat penting agar perubahan nama tidak menimbulkan kebingungan baru di masyarakat.
Di sisi lain, momentum ini dapat menjadi peluang untuk memperkuat literasi kesehatan perempuan di Indonesia. Pada akhirnya, perubahan dari PCOS menjadi PMOS mengajarkan satu hal penting, yaitu ilmu pengetahuan selalu berkembang. Apa yang dahulu dianggap benar bisa menjadi tidak memadai lagi, ketika bukti ilmiah baru terus bermunculan.
Kedokteran modern tidak boleh terjebak dalam istilah yang diwariskan sejarah tetapi kehilangan relevansi ilmiahnya. Nama penyakit harus membantu pemahaman, bukan menciptakan kebingungan.
PMOS mungkin memang terdengar lebih panjang dan lebih kompleks dibandingkan PCOS. Namun, kompleksitas itu justru mencerminkan kenyataan biologis dari penyakit ini.
Dan mungkin di situlah makna terpenting dari perubahan ini: dunia akhirnya mulai melihat kesehatan perempuan bukan sekadar persoalan ovarium, melainkan sebagai bagian utuh dari sistem biologis, metabolik, psikologis, dan sosial yang saling terhubung. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi |
|
|---|
| Perang dan Damai Bagian -19, Krisis Energi, Resesi Global dan Urgensi Perdamaian |
|
|---|
| JKA Kiamat Sebagai Program Sejuta Umat |
|
|---|
| Saatnya Aceh Berani: Membangun Pendidikan yang Berdaya Saing |
|
|---|
| Menata JKA, Melindungi Hak Rakyat Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-dr-Rajuddin-SpOGK-SubspFER-17-11.jpg)