Senin, 18 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Uang Tidur di Tanah Otsus: Paradoks Aceh Saat Anggaran Mengendap tapi Sibuk Melobi Dana Tambahan

Aceh seharusnya memiliki peluang lebih cepat untuk bangkit dibanding banyak daerah lain di Indonesia

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta 

Reformasi birokrasi perlu diarahkan pada percepatan pengadaan proyek, penyederhanaan prosedur administrasi, dan peningkatan kapasitas aparatur pemerintah. 

Sistem perencanaan pembangunan juga harus lebih berbasis kebutuhan masyarakat, bukan sekadar rutinitas tahunan yang minim inovasi. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap program memiliki ukuran dampak yang jelas terhadap kesejahteraan rakyat.

Di saat yang sama, pengawasan publik harus diperkuat. Masyarakat, media, akademisi, dan lembaga sipil perlu terus mengawal penggunaan dana otsus agar benar benar memberikan manfaat nyata. 

Transparansi anggaran harus menjadi budaya pemerintahan, bukan sekadar formalitas laporan tahunan. Publik berhak mengetahui ke mana uang rakyat dibelanjakan dan sejauh mana dampaknya terhadap pembangunan daerah.

Aceh sesungguhnya memiliki modal besar untuk maju. Dukungan dana otsus yang melimpah seharusnya dapat menjadi mesin transformasi ekonomi dan sosial yang kuat. 

Namun modal besar tanpa tata kelola yang baik hanya akan melahirkan paradoks berkepanjangan: pemerintah terus meminta tambahan anggaran, sementara dana yang tersedia justru mengendap tanpa manfaat optimal bagi rakyat.

Baca juga: Terkait Pengelolaan Dana Otsus ke Depan, Aceh Harus Ada Perencanaan Konkret

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang angka APBA atau besarnya dana otsus. Ini adalah soal keberpihakan terhadap masa depan Aceh

Ketika masyarakat masih menghadapi kemiskinan, keterbatasan layanan dasar, dan sempitnya peluang ekonomi, maka setiap dana yang tidak terserap sesungguhnya adalah kesempatan pembangunan yang hilang. 

Dan selama pemerintah lebih sibuk melobi tambahan dana daripada memastikan efektivitas penggunaannya, paradoks anggaran Aceh akan terus menjadi ironi yang menyakitkan bagi rakyatnya.

*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved